Menurut investigasi Wall Street Journal pada 21 Juni, Polymarket menggunakan video trading yang dibuat-buat dan tangkapan layar profit palsu untuk memasarkan platform prediction market-nya kepada pengguna AS. Platform tersebut membayar kreator untuk membuat konten yang melebih-lebihkan kemenangan trading, yang kemudian menyebar luas di TikTok, Instagram, dan YouTube, sehingga menciptakan kesan keliru bahwa pengguna bisa dengan mudah meraih keuntungan dari taruhan pada politik, olahraga, dan peristiwa terkini.
Polymarket mempekerjakan perusahaan pemasaran Virality untuk mengelola kampanye influencer yang secara tegas menargetkan pengguna di AS. Sebelumnya, platform tersebut menghindari menyediakan layanan langsung kepada warga Amerika untuk menghindari pengawasan regulasi AS. Jika hal ini dikonfirmasi, praktik pemasaran tersebut menunjukkan bahwa platform itu telah lama beroperasi di wilayah abu-abu hukum meski mengklaim membatasi akses pengguna Amerika.