Operator pusat data berbasis Singapura, Digital Edge, menutup pinjaman perusahaan induk pertamanya senilai US$575 juta pada 22 Mei untuk memperluas ke seluruh Asia Pasifik. Perusahaan mengaitkan pendanaan tersebut dengan meningkatnya permintaan fasilitas hyperscale dan siap AI di kawasan ini. Digital Edge didukung oleh investor AS Stonepeak dan berencana menyalurkan modal tersebut ke Korea Selatan, Jepang, India, dan Asia Tenggara.
Struktur Pendanaan dan Lembaga Pemberi Pinjaman
Clifford Capital, Deutsche Bank, MUFG, Sumitomo Mitsui Banking Corp, dan Standard Chartered memimpin pendanaan, dengan BNP Paribas dan Stonepeak Credit sebagai co-leads. Pinjaman ini mencakup opsi konversi untuk menjadi fasilitas yang terhubung dengan keberlanjutan jika Digital Edge dan para kreditornya menyepakati target kinerja.
Strategi Penempatan Dana di Seluruh Asia Pasifik
Digital Edge berencana menyalurkan US$575 juta di beberapa pasar di kawasan tersebut. Perusahaan tengah memajukan proyek senilai US$2 miliar untuk fasilitas hyperscale 300 megawatt yang baru dibangun di Navi Mumbai, India. Di Indonesia, Digital Edge mendanai CGK Campus, sebuah kampus pusat data hyperscale siap AI 500 megawatt di Bekasi dengan ruang untuk berkembang hingga 1 gigawatt, dengan komitmen total sebesar US$4,5 miliar.
Di seluruh platformnya, Digital Edge memiliki lebih dari 500 megawatt beban IT kritis yang sedang beroperasi, dalam konstruksi, atau dalam tahap pengembangan, ditambah 300 megawatt lainnya yang disediakan untuk proyek-proyek mendatang.
Ekosistem Pendanaan yang Lebih Luas
Pinjaman senilai US$575 juta ini berada dalam kumpulan pendanaan besar milik Digital Edge. Sebelumnya, perusahaan telah menghimpun lebih dari US$1,6 miliar dalam ekuitas dan utang untuk memperluas platformnya.
Digital Edge bekerja sama dengan Peak Energy, perusahaan portofolio Stonepeak lainnya, dalam proyek-proyek tenaga terbarukan. Pipeline awal menargetkan 500 megawatt kapasitas operasi dan mendukung dekarbonisasi hingga 1 gigawatt tenaga.
Stonepeak juga mendanai platform Asia Pasifik lainnya, termasuk investasi ekuitas preferen senilai US$1,3 miliar di Princeton Digital Group, sebuah operator pusat data.