Penulis: Ray Dalio
Diterjemahkan: Bruce
Selamat Natal semuanya (meskipun Anda bukan penganut Kristen)!
Kemarin bertepatan dengan hari Natal. Saat menikmati waktu keluarga tiga generasi, saya tak bisa tidak memikirkan beberapa hal berikut. Refleksi ini berfokus pada: pentingnya prinsip sebagai aset inti, definisi eksternalitas positif dan negatif (kebaikan dan kejahatan), serta bagaimana kehilangan modal sosial (Social Capital) dapat menyebabkan “jatuh ke neraka”.
Menurut saya, aset terpenting dalam hidup ini adalah seperangkat “prinsip” yang baik, karena prinsip-prinsip ini membentuk algoritma dasar pengambilan keputusan individu (Underlying Algorithms). Prinsip membentuk fungsi utilitas (Utility Function) kita dan jalur pencapaiannya. Prinsip fundamental berkaitan dengan urutan nilai kita, bahkan menentukan preferensi permainan kita dalam situasi ekstrem (yaitu keyakinan yang kita siap pertaruhkan nyawa demi).
Berdasarkan hal ini, saya melakukan audit dan refleksi berikut:
Dari sudut pandang evolusi sejarah, sejak terbentuknya masyarakat manusia, peradaban di berbagai wilayah berkembang secara mandiri dalam lingkungan hidup yang relatif tertutup, dan masing-masing mengembangkan prinsip dan agama mereka sendiri. Meski lingkungan geografis berbeda, kebutuhan inti semua masyarakat (Demand) sangat seragam: yaitu membutuhkan seperangkat sistem tidak resmi (Informal Institutions) yang membatasi perilaku individu untuk menurunkan biaya transaksi (Transaction Costs) dan mencapai kolaborasi sosial. Prinsip-prinsip ini dikodifikasi dalam “kitab suci”. Dengan kata lain, asal-usul agama adalah untuk menyediakan mekanisme insentif dalam tata kelola sosial, mengarahkan perilaku individu agar mengarah ke optimal kolektif.
Sebagian besar agama: baik yang memiliki kepercayaan transendental maupun yang berfokus pada etika duniawi seperti Konfusianisme, merupakan gabungan kontrak yang terdiri dari dua bagian:
Jika interpretasi literal dari asumsi supernatural ini (seperti kelahiran dari perawan, kebangkitan dari kematian) sering kekurangan dukungan empiris, namun jika dipandang sebagai metafora, maka menunjukkan kesamaan struktur lintas budaya. Sebaliknya, prinsip non-supernatural tentang “kolaborasi sosial” dalam berbagai agama justru sangat mirip. Jika kita hanya memperhatikan bentuk yang rumit dan mengabaikan inti insentif ini, hari raya keagamaan akan kehilangan makna dan menjadi simbol konsumsi yang kosong.
Meskipun saya tidak percaya pada kekuatan supernatural (saya tidak cenderung menerima asumsi a priori yang belum diverifikasi secara ketat), saya sangat menghargai kebijaksanaan evolusi yang terkandung dalam agama. Misalnya, “mengasihi sesama seperti diri sendiri” dan “karma” dalam teori permainan sebenarnya mencerminkan reciprocity altruism.
Dari sudut pandang mekanisme desain (Mechanism Design), ketika individu dalam interaksi menerapkan strategi “memberi lebih besar daripada meminta”, akan tercipta nilai tambah yang sangat tinggi: biaya yang dikeluarkan pemberi biasanya jauh lebih kecil daripada manfaat marginal penerima. Eksternalitas positif ini menimbulkan hubungan “menang-menang” yang tidak nol-sum, secara signifikan meningkatkan total output dan kesejahteraan sosial.
Bagi saya, “Spiritualitas” berarti individu menyadari bahwa dirinya adalah bagian dari sistem yang lebih besar, dan cenderung mencari optimal sistem (System Optimization) daripada optimal parsial (yakni egoisme ekstrem yang mengorbankan kepentingan keseluruhan). Ini bukan hanya tuntutan moral, tetapi juga logika operasional yang efisien. Sayangnya, kesepahaman nilai tentang kebaikan dan kejahatan ini saat ini sedang mengalami penurunan kepercayaan yang serius.
Tentu saja, saya tidak menganjurkan perdamaian mutlak. Ketika menghadapi konflik yang tak terelakkan demi kelangsungan hidup, perjuangan adalah batasan eksternal yang diperlukan. Prinsip yang saya anjurkan adalah: jangan buang-buang sumber daya untuk asumsi supernatural atau hal-hal sepele di margin (Deadweight Loss), dan jangan pernah mengaburkan definisi dasar tentang eksternalitas positif dan negatif (kebaikan dan kejahatan).
Apa sebenarnya kebaikan dan kejahatan?
Dalam konteks modern, orang sering keliru menyederhanakan “kebaikan dan kejahatan” sebagai “peningkatan atau penurunan manfaat pribadi”. Dari sudut pandang ekonomi, “kebaikan” adalah perilaku yang dapat memaksimalkan utilitas sosial secara keseluruhan (eksternalitas positif), sedangkan “kejahatan” adalah perilaku yang merugikan kepentingan sistem secara keseluruhan (eksternalitas negatif).
Penilaian terhadap karakter pun merupakan kelanjutan dari logika ini. Karakter baik (Good Character) adalah aset psikologis yang mampu berkomitmen dan mewujudkan maksimisasi manfaat kolektif; sedangkan karakter buruk adalah akibat kelemahan atau perilaku menyimpang yang merugikan kesejahteraan sosial.
Saya yakin ada pola perilaku yang dapat meningkatkan kesejahteraan Pareto baik untuk individu maupun masyarakat. Meski bahasa agama berbeda, penghormatan terhadap kualitas seperti “keberanian”, “integritas”, dan “pengendalian diri” adalah konsensus global, karena mereka adalah protokol penting untuk menjaga kelangsungan masyarakat yang kompleks.
Saya pribadi berpendapat bahwa kita sedang berada dalam proses “neraka” secara metaforis. Ini berarti sebagian besar anggota masyarakat telah kehilangan titik jangkar kesepakatan tentang kebaikan dan kejahatan, dan kehilangan ini akan menyebabkan biaya yang sangat tinggi (Hellacious Price).
Lebih spesifik, kesepakatan kontrak sosial kita sedang runtuh. Prinsip dominan saat ini telah disederhanakan menjadi sekadar memaksimalkan kepentingan diri sendiri: yaitu penjarahan uang dan kekuasaan secara mutlak. Pergeseran nilai ini tercermin dalam produk budaya: kita kekurangan teladan yang memiliki daya tarik moral.
Ketika perilaku buruk dibungkus sebagai jalan pintas menuju sukses, dan anak-anak tumbuh dalam lingkungan tanpa “model insentif” yang benar, konsekuensinya adalah bencana. Narkoba, kekerasan, bunuh diri, dan meningkatnya kesenjangan peluang (Opportunities Gap) adalah gejala sekaligus penyebab runtuhnya prinsip sosial.
Ironisnya, banyak penganut agama di masa lalu mengkhianati prinsip kolaborasi dalam ajaran mereka demi merebut kekuasaan atas interpretasi supernatural atau demi keuntungan pribadi. Karena perilaku ini (Moral Hazard), orang-orang yang meninggalkan kepercayaan agama dan takhayul justru salah mengartikan dan menghapus nilai-nilai sosial yang bermanfaat, menciptakan kekosongan sistem.
Meskipun kemajuan teknologi dan produktivitas telah mencapai pertumbuhan eksponensial, saya percaya bahwa teknologi hanyalah leverage; ia dapat memperbesar manfaat maupun kerusakan. Sejarah membuktikan bahwa inovasi teknologi tidak mampu menghilangkan konflik.
Kabar baik (The good news) adalah: karena alat teknologi kita saat ini sangat kuat, selama kita mampu merancang sistem prinsip “saling menguntungkan” yang sehat (Rulebook), kita memiliki kapasitas untuk menyelesaikan semua krisis sistemik.