Nu scalabilitatea tehnică, ci cadrul legal și fiscal reprezintă principalul factor yang membatasi penggunaan Bitcoin sebagai alat pembayaran. Ini adalah kesimpulan yang dicapai oleh para ahli dari industri kripto, yang menganalisis mengapa, meskipun ada kemajuan teknologi yang signifikan, mata uang digital ini masih belum menemukan tempatnya dalam kehidupan sehari-hari konsumen biasa.
Kurangnya Pembebasan Pajak: Hambatan Terbesar untuk Penggunaan Bitcoin
Menurut Pierre Rochard, analis bitcoin dan konsultan di perusahaan treasury Strive, masalah sebenarnya bukan terletak pada kapasitas jaringan untuk memproses lebih banyak transaksi. Hambatan sebenarnya adalah tidak adanya pembebasan pajak minimalis untuk mikrotransaksi yang dilakukan dengan Bitcoin. Regulasi saat ini menetapkan bahwa setiap operasi dengan BTC harus dilaporkan dan dikenai pajak, tanpa memandang nilai, yang secara praktis membuat penggunaan Bitcoin dalam transaksi harian menjadi tidak mungkin.
Institut Kebijakan Bitcoin, organisasi yang fokus pada advokasi dan lobi di bidang regulasi kripto, baru-baru ini mengeluarkan peringatan mengenai kurangnya perlindungan pajak ini. Organisasi menekankan bahwa tanpa mekanisme pengecualian untuk transaksi kecil, setiap pembelian yang dilakukan dengan Bitcoin menjadi kewajiban pajak yang memerlukan dokumentasi dan pelaporan. Realitas ini mengubah penggunaan Bitcoin dari metode pembayaran sederhana menjadi setara dengan kewajiban administratif yang rumit, yang menghalangi massa untuk mengadopsi metode ini.
Upaya Legislator: Usaha Reformasi Kerangka Pajak
Keterbukaan terhadap reformasi kebijakan pajak datang dari beberapa anggota parlemen yang memiliki pandangan lebih progresif. Senator dari Wyoming, Cynthia Lummis, yang dikenal mendukung industri aset digital, mengusulkan inisiatif legislatif yang menawarkan pembebasan pajak untuk aset kripto yang dinilai maksimal 300 dolar per transaksi. Rancangan ini juga mencakup batas tahunan sebesar 5.000 dolar untuk penerima manfaat dari pembebasan ini, dengan ketentuan khusus untuk donasi amal dan penundaan pajak atas pendapatan dari staking dan mining.
Namun, usulan ini memicu perdebatan internal yang kompleks. Legislator dari Amerika Serikat mempertimbangkan pendekatan yang lebih restriktif: membatasi pembebasan hanya pada stablecoin yang sepenuhnya dijamin oleh deposito fiat atau surat utang negara, mengecualikan Bitcoin dan cryptocurrency terdesentralisasi lainnya dari manfaat pembebasan ini.
Perpecahan di Kalangan Komunitas Kripto
Penentangan dari tokoh-tokoh penting di ruang kripto bersifat langsung dan keras. Jack Dorsey, pendiri platform pembayaran Square dan pendukung tetap Bitcoin, berargumen bahwa mata uang digital harus menjadi “uang sehari-hari” agar dapat mewujudkan potensi sebenarnya. Dorsey berpendapat bahwa pembatasan penggunaan Bitcoin melalui hambatan pajak bertentangan dengan tujuan utama teknologi ini.
Marty Bent, pengacara Bitcoin dan co-founder outlet media Truth for the Commoner, mengkritik keputusan untuk hanya memberikan pembebasan pada stablecoin sebagai “tidak masuk akal dan diskriminatif”. Bent dan lainnya dalam komunitas berpendapat bahwa membatasi penggunaan Bitcoin karena alasan pajak justru meniadakan sifat inovatif dari aset digital dan memperpetuasi ketergantungan pada sistem moneter tradisional.
Perdebatan mendalam ini mencerminkan ketegangan fundamental dalam proses integrasi mata uang kripto ke dalam ekonomi global. Masalahnya bukan lagi kapasitas teknis untuk menciptakan alat pembayaran digital, melainkan kesiapan otoritas untuk menciptakan kerangka pajak yang memungkinkan penggunaan nyata dari aset ini. Tanpa perubahan legislatif, penggunaan Bitcoin dalam kehidupan sehari-hari akan tetap menjadi cita-cita yang jauh dari kenyataan.
Halaman ini mungkin berisi konten pihak ketiga, yang disediakan untuk tujuan informasi saja (bukan pernyataan/jaminan) dan tidak boleh dianggap sebagai dukungan terhadap pandangannya oleh Gate, atau sebagai nasihat keuangan atau profesional. Lihat Penafian untuk detailnya.
Kebijakan Fiskal dan Penggunaan Bitcoin: Hambatan Sejati dalam Menuju Adopsi Global
Nu scalabilitatea tehnică, ci cadrul legal și fiscal reprezintă principalul factor yang membatasi penggunaan Bitcoin sebagai alat pembayaran. Ini adalah kesimpulan yang dicapai oleh para ahli dari industri kripto, yang menganalisis mengapa, meskipun ada kemajuan teknologi yang signifikan, mata uang digital ini masih belum menemukan tempatnya dalam kehidupan sehari-hari konsumen biasa.
Kurangnya Pembebasan Pajak: Hambatan Terbesar untuk Penggunaan Bitcoin
Menurut Pierre Rochard, analis bitcoin dan konsultan di perusahaan treasury Strive, masalah sebenarnya bukan terletak pada kapasitas jaringan untuk memproses lebih banyak transaksi. Hambatan sebenarnya adalah tidak adanya pembebasan pajak minimalis untuk mikrotransaksi yang dilakukan dengan Bitcoin. Regulasi saat ini menetapkan bahwa setiap operasi dengan BTC harus dilaporkan dan dikenai pajak, tanpa memandang nilai, yang secara praktis membuat penggunaan Bitcoin dalam transaksi harian menjadi tidak mungkin.
Institut Kebijakan Bitcoin, organisasi yang fokus pada advokasi dan lobi di bidang regulasi kripto, baru-baru ini mengeluarkan peringatan mengenai kurangnya perlindungan pajak ini. Organisasi menekankan bahwa tanpa mekanisme pengecualian untuk transaksi kecil, setiap pembelian yang dilakukan dengan Bitcoin menjadi kewajiban pajak yang memerlukan dokumentasi dan pelaporan. Realitas ini mengubah penggunaan Bitcoin dari metode pembayaran sederhana menjadi setara dengan kewajiban administratif yang rumit, yang menghalangi massa untuk mengadopsi metode ini.
Upaya Legislator: Usaha Reformasi Kerangka Pajak
Keterbukaan terhadap reformasi kebijakan pajak datang dari beberapa anggota parlemen yang memiliki pandangan lebih progresif. Senator dari Wyoming, Cynthia Lummis, yang dikenal mendukung industri aset digital, mengusulkan inisiatif legislatif yang menawarkan pembebasan pajak untuk aset kripto yang dinilai maksimal 300 dolar per transaksi. Rancangan ini juga mencakup batas tahunan sebesar 5.000 dolar untuk penerima manfaat dari pembebasan ini, dengan ketentuan khusus untuk donasi amal dan penundaan pajak atas pendapatan dari staking dan mining.
Namun, usulan ini memicu perdebatan internal yang kompleks. Legislator dari Amerika Serikat mempertimbangkan pendekatan yang lebih restriktif: membatasi pembebasan hanya pada stablecoin yang sepenuhnya dijamin oleh deposito fiat atau surat utang negara, mengecualikan Bitcoin dan cryptocurrency terdesentralisasi lainnya dari manfaat pembebasan ini.
Perpecahan di Kalangan Komunitas Kripto
Penentangan dari tokoh-tokoh penting di ruang kripto bersifat langsung dan keras. Jack Dorsey, pendiri platform pembayaran Square dan pendukung tetap Bitcoin, berargumen bahwa mata uang digital harus menjadi “uang sehari-hari” agar dapat mewujudkan potensi sebenarnya. Dorsey berpendapat bahwa pembatasan penggunaan Bitcoin melalui hambatan pajak bertentangan dengan tujuan utama teknologi ini.
Marty Bent, pengacara Bitcoin dan co-founder outlet media Truth for the Commoner, mengkritik keputusan untuk hanya memberikan pembebasan pada stablecoin sebagai “tidak masuk akal dan diskriminatif”. Bent dan lainnya dalam komunitas berpendapat bahwa membatasi penggunaan Bitcoin karena alasan pajak justru meniadakan sifat inovatif dari aset digital dan memperpetuasi ketergantungan pada sistem moneter tradisional.
Perdebatan mendalam ini mencerminkan ketegangan fundamental dalam proses integrasi mata uang kripto ke dalam ekonomi global. Masalahnya bukan lagi kapasitas teknis untuk menciptakan alat pembayaran digital, melainkan kesiapan otoritas untuk menciptakan kerangka pajak yang memungkinkan penggunaan nyata dari aset ini. Tanpa perubahan legislatif, penggunaan Bitcoin dalam kehidupan sehari-hari akan tetap menjadi cita-cita yang jauh dari kenyataan.