Pada periode 22:15 hingga 22:30 UTC tanggal 22 Juni 2026, ETH turun 0,66% dalam 15 menit; harga bergerak dari 1.733,96 USDT menjadi 1.718,09 USDT, dengan amplitudo 0,92%. Gejolak ini terjadi pada jendela transisi dari sesi perdagangan Asia ke sesi Amerika/Eropa; likuiditas yang relatif tipis memperbesar amplitudo pergerakan harga.
Dorongan utama dari anomali kali ini adalah deleveraging di pasar berjangka. Berdasarkan data, open interest futures Ether turun dari sekitar 15 miliar dolar AS satu bulan lalu menjadi 10,3 miliar dolar AS, turun 31%, ke level terendah sejak April 2025. Penarikan berkelanjutan dana leverage menyebabkan likuidasi posisi long atau pembukaan posisi short terkonsentrasi dalam jendela waktu singkat, yang secara langsung menekan harga ke bawah.
Kedua, data net inflow bursa juga menjadi latar tekanan jual yang potensial. Data menunjukkan bahwa salah satu platform bursa terkemuka dalam beberapa hari terakhir mencatat net inflow sekitar 57.700 ETH, yang berarti investor memindahkan token ke bursa untuk bersiap menjual. Sementara itu, secara teknikal harga mendekati level resistensi $1.800; trader jangka pendek memilih mengambil untung karena tidak ada dukungan beli yang cukup, sehingga memperparah tekanan jual teknikal.
Dari sisi makro, lembaga-lembaga arus utama baru-baru ini menurunkan target harga ETH; arus dana ETF membaik secara marjinal tetapi skalanya terbatas; serta indeks Fear & Greed masih bertahan pada rentang ekstrem “Fear” di level 15–16. Faktor-faktor ini secara bersama-sama membentuk sentimen yang cenderung melemah, sehingga memperbesar volatilitas jangka pendek.
Risiko volatilitas saat ini masih ada; ke depan perlu dicermati apakah ETH mampu mempertahankan validitas support di level psikologis $1.700, apakah open interest futures terus menyusut, serta apakah arah arus dana ETF mengalami perubahan secara marjinal. Investor perlu waspada terhadap risiko volatilitas yang diperbesar pada periode jendela likuiditas.