20 Januari berita, Presiden AS Donald Trump pada hari Selasa secara terbuka mengancam bahwa jika Presiden Prancis Emmanuel Macron menolak bergabung dengan apa yang disebut “Komite Perdamaian” yang dibentuk untuk masalah Gaza, Amerika Serikat akan mengenakan tarif hingga 200% pada anggur dan sampanye Prancis. Pernyataan ini dengan cepat menarik perhatian opini internasional dan juga dipandang sebagai sinyal terbaru dari ketegangan hubungan AS-Eropa yang kembali meningkat.
Trump secara blak-blakan menyatakan saat ditanya wartawan di Miami bahwa Macron “segera akan turun dari jabatannya”, sehingga apakah akan bergabung dengan komite tersebut “tidak penting”. Ia juga mengklaim bahwa peningkatan tarif akan memaksa pihak Prancis untuk mengubah posisi mereka, dan ini digunakan sebagai tekanan. Pernyataan tersebut diartikan oleh pihak luar sebagai pengaitan langsung antara kebijakan perdagangan dan isu geopolitik.
Selain masalah Gaza, Trump juga kembali menegaskan rencananya untuk mengendalikan Greenland, menyebut wilayah tersebut memiliki “kepentingan kunci” bagi keamanan Amerika Serikat. Ia menyatakan bahwa negara-negara Eropa “tidak mampu melindungi Greenland”, dan menganggap bahwa resistensi dari pemimpin Eropa “tidak akan terlalu besar”. Pernyataan ini melanjutkan garis utama kontroversi seputar kedaulatan Greenland dan ancaman tarif yang belakangan ini meningkat.
Di tingkat pasar, para analis menunjukkan bahwa jika gesekan perdagangan AS-Eropa terus meningkat, hal ini berpotensi menekan sentimen aset risiko global dan mendorong permintaan pengelolaan aset lindung nilai. Dalam konteks ketidakpastian makro yang meningkat, volatilitas emas, aset kripto, dan aset sensitif kebijakan terkait lainnya mungkin akan meningkat.
Seiring Trump sering mengeluarkan sinyal tarif dan geopolitik, hubungan AS-Eropa, keamanan energi, serta pola perdagangan global sedang menghadapi ujian baru, dan dinamika terkait tetap perlu dipantau secara berkelanjutan.