Anggota Parlemen Partai Buruh UK mendorong untuk memblokir donasi kripto guna melindungi transparansi pemilu dan membatasi risiko terkait aliran dana asing.
Donasi kripto besar kepada Reform UK telah meningkatkan tekanan pada pembuat undang-undang untuk menutup celah dalam aturan keuangan politik.
Pembuat undang-undang memperingatkan bahwa alat kripto dan AI dapat menyembunyikan sumber pendanaan dan melemahkan pengawasan sebelum pemilu UK mendatang.
Sekelompok anggota senior Partai Buruh telah memperkuat tekanan pada pemerintah UK untuk memblokir donasi cryptocurrency ke partai politik menjelang reformasi pemilu yang akan datang. Langkah ini mencerminkan kekhawatiran yang meningkat di Parlemen terhadap transparansi keuangan politik. Pembuat undang-undang kini menginginkan RUU Pemilihan untuk memasukkan larangan hukum yang jelas terhadap kontribusi kripto.
Ketua komite UK dorong larangan donasi politik kripto, menambah tekanan pada pemerintah Buruh https://t.co/7zCvMAGM2Y
— The Block (@TheBlock__) 11 Januari 2026
Usulan ini muncul saat pengawasan meningkat terhadap bagaimana aset digital dapat mempengaruhi perlindungan demokrasi. Anggota komite berpendapat bahwa aturan donasi yang ada gagal mengatasi risiko yang terkait dengan teknologi keuangan yang berkembang. Akibatnya, mereka menginginkan kontrol yang lebih ketat yang tertulis langsung dalam undang-undang pemilihan.
Seruan ini berasal dari komite yang terdiri dari tujuh anggota Partai Buruh yang memiliki peran senior di parlemen. Kelompok ini meliputi Liam Byrne, Emily Thornberry, Tan Dhesi, Florence Eshalomi, Andy Slaughter, Chi Onwurah, dan Matt Western. Mereka bersama-sama mendesak Perdana Menteri Keir Starmer untuk bertindak melalui RUU Pemilihan.
Para anggota parlemen ini mengangkat kekhawatiran tersebut setelah mendengar bukti selama sesi komite terakhir. Mereka menyoroti risiko bahwa donasi kripto dapat melewati sistem pengawasan saat ini. Selain itu, mereka memperingatkan bahwa aset digital mungkin berada di luar kerangka regulasi UK yang ada. Celah ini, menurut mereka, melemahkan penegakan hukum dan kepercayaan publik.
Komite ini juga menyoroti bagaimana alat kecerdasan buatan dapat semakin memperburuk kaburnya jejak donasi. Dikombinasikan dengan transfer kripto, alat semacam ini dapat menyulitkan identifikasi sumber dana asli. Oleh karena itu, anggota parlemen melihat adanya ancaman langsung terhadap integritas pemilu.
Tekanan terhadap pemerintah meningkat setelah Reform UK menerima donasi cryptocurrency besar. Kontribusi ini mencapai sekitar £9 juta, setara dengan sekitar $12 juta. Menurut data Komisi Pemilihan, investor kripto Christopher Harborne melakukan donasi tersebut menjelang pemilihan lokal pada bulan Mei.
Skala donasi ini menghidupkan kembali perdebatan di Westminster. Kritikus mengatakan bahwa hal ini mengungkap kelemahan dalam aturan keuangan politik saat ini. Selain itu, kasus ini menambah urgensi untuk reformasi sebelum pemilihan nasional mendatang. Pejabat pemerintah sudah menandai bahwa perubahan sedang dipertimbangkan.
Bulan lalu, menteri mengatakan bahwa RUU Pemilihan akan memperjelas posisi pemerintah tentang donasi kripto. Namun, tidak ada komitmen tegas yang muncul dalam briefing sebelumnya. Anggota parlemen Partai Buruh kini menginginkan kata-kata hukum yang eksplisit untuk menghilangkan ambiguitas.
Kekhawatiran juga melampaui politik domestik. Mantan pejabat sipil senior Philip Rycroft sedang meninjau campur tangan keuangan asing dalam demokrasi UK. Tinjauan ini mencakup peran cryptocurrency dalam pendanaan politik. Namun, pejabat tidak mengharapkan temuan sampai Maret 2026.
Anggota parlemen Partai Buruh berpendapat bahwa menunggu hasil tinjauan tersebut berisiko memperlihatkan kerentanan lebih jauh. Mereka menegaskan bahwa sistem keuangan politik harus tetap transparan dan dapat dilacak. Menurut mereka, kripto memungkinkan micro-donasi yang terfragmentasi dan dapat menghindari ambang pengungkapan. Struktur ini dapat memungkinkan pengaruh asing masuk ke politik UK tanpa diketahui.
Para anggota parlemen yang terlibat menegaskan bahwa sikap mereka tidak menentang inovasi keuangan. Sebaliknya, mereka memandang dorongan ini sebagai perlindungan terhadap akuntabilitas demokratis. Dengan mendekati pengesahan RUU Pemilihan, perdebatan tentang donasi kripto kemungkinan akan tetap menjadi pusat diskusi reformasi pemilu.