Gejolak Pasar Global di Tengah Konflik AS-Iran: Mengapa Saham AS dan Cryptocurrency Sama-sama Tertekan?

Pasar
Diperbarui: 06/11/2026 13:26

Pada awal Juni 2026, konflik kembali memanas di Timur Tengah. Iran dan Israel melanjutkan permusuhan setelah gencatan senjata selama dua bulan, dan Amerika Serikat melancarkan serangan militer ke sejumlah target di wilayah Iran. Selat Hormuz pun dinyatakan ditutup. Rangkaian peristiwa ini tidak hanya mengubah lanskap keamanan kawasan, tetapi juga memicu dampak berantai yang signifikan di pasar modal global.

Setelah eskalasi tersebut, pasar saham AS mengalami tekanan berkelanjutan. Dow Jones Industrial Average turun di bawah ambang 50.000 poin, sementara aset safe haven tradisional seperti emas juga anjlok, jatuh ke kisaran USD 4.100. Bitcoin mengalami volatilitas tinggi—awalnya merosot di bawah USD 60.000 hingga menyentuh level terendah sejak Oktober 2024, lalu berbalik menguat tajam seiring meningkatnya risiko geopolitik.

Ketika rudal melintas di langit Timur Tengah, logika penetapan harga aset global pun tengah ditulis ulang.

Bagaimana Eskalasi di Timur Tengah Menular ke Pasar Modal Global

Guncangan geopolitik di pasar modal tidak terjadi secara acak; dampaknya menjalar secara sistematis melalui saluran ekonomi yang jelas. Pada 7 Juni 2026, Iran meluncurkan rudal balistik ke Israel utara, memicu spiral eskalasi: Israel membalas ke sejumlah target di Iran, dan pada 10 Juni, pasukan AS melancarkan serangan udara baru ke Iran. Menanggapi hal ini, militer Iran mengumumkan penutupan Selat Hormuz. Lebih dari 20% perdagangan minyak dunia melalui laut melintasi selat ini setiap harinya, sehingga penutupan tersebut langsung memicu volatilitas ekstrem di pasar energi.

Saluran transmisi pertama adalah harga energi. Setelah eskalasi, harga minyak mentah WTI melonjak menembus USD 90 per barel, sementara Brent naik di atas USD 93 dan sempat menyentuh USD 98 dalam perdagangan intraday. Minyak tidak hanya merupakan input industri vital, tetapi juga jangkar ekspektasi inflasi global. Setiap kenaikan USD 10 pada harga minyak secara langsung berdampak pada Indeks Harga Konsumen (IHK) sekitar 0,3 hingga 0,5 poin persentase. Seiring naiknya biaya energi, biaya transportasi, manufaktur, dan konsumsi juga ikut terdorong, sehingga pasar dengan cepat merevisi ekspektasi inflasi ke atas.

Saluran kedua adalah ekspektasi kebijakan moneter. Kenaikan proyeksi inflasi berarti bank sentral utama—khususnya Federal Reserve—mungkin harus mempertahankan atau bahkan memperketat kebijakan moneter. Sebelum konflik, kontrak berjangka dana federal mengindikasikan dua kali pemangkasan suku bunga tahun ini. Setelah penutupan Selat Hormuz dikonfirmasi, ekspektasi turun hanya menjadi satu kali pemangkasan, dengan waktu yang mundur dari Juli ke setelah September.

Saluran ketiga adalah penyusutan sistemik pada selera risiko. Dalam situasi ketidakpastian tinggi, portofolio institusi biasanya memangkas eksposur aset berisiko secara menyeluruh. Inilah sebabnya saham AS, pasar Asia, dan kripto sama-sama tertekan di awal konflik: semuanya adalah aset berisiko tinggi dengan sensitivitas serupa terhadap kondisi makro.

Panic Selling Melanda Saham AS: Logika di Balik Turunnya Dow di Bawah 50.000

Saham AS menjadi kelas aset paling representatif dalam putaran konflik kali ini. Pada 10 Juni (waktu setempat), setelah Komando Pusat AS menyerang beberapa target di Iran, ketiga indeks saham utama AS dibuka di zona merah dan ditutup melemah. Dow Jones Industrial Average turun 1,87% ke 49.918,78, resmi menembus di bawah 50.000 poin. S&P 500 turun 1,62%, dan Nasdaq Composite melemah 1,98%.

Secara sektoral, saham teknologi berkapitalisasi besar menjadi penekan utama indeks. Wind U.S. Tech Giants Index anjlok 2,17%. Tesla dan Nvidia sama-sama turun lebih dari 3,7%, sementara Amazon, Google, dan Meta masing-masing kehilangan lebih dari 2%. Saham teknologi sangat sensitif terhadap tingkat diskonto—ketika pasar memperkirakan suku bunga lebih tinggi, nilai kini arus kas masa depan tertekan secara sistematis, sehingga valuasi ikut tertekan.

Koreksi di pasar saham AS ini tidak semata-mata dipicu faktor geopolitik. Bahkan sebelum eskalasi, valuasi sudah berada di level tertinggi sepanjang sejarah, dengan ekspektasi berlebihan pada aset terkait AI. Kombinasi risiko geopolitik dan valuasi tinggi memperbesar kerentanan pasar. Investor khawatir eskalasi lebih lanjut antara AS dan Iran akan mendorong harga energi lebih tinggi, memicu kembali tekanan inflasi, dan memaksa The Fed mempertahankan suku bunga tinggi lebih lama.

Pasar Asia juga terkena dampak signifikan. Indeks KOSPI Korea Selatan anjlok lebih dari 4% intraday, sementara Nikkei 225 Jepang turun hampir 3%, seiring sentimen risk-off menyebar di kawasan. Pada 8 Juni, saat konflik memanas, KOSPI bahkan sempat anjlok 8% dan memicu circuit breaker.

Dampak Lonjakan Harga Minyak Terhadap Aset Berisiko Melalui Tiga Saluran

Lonjakan cepat harga minyak menjadi variabel sentral di balik volatilitas pasar kali ini. Dampak minyak terhadap aset berisiko tidak bersifat linear, melainkan terjadi pada tiga tingkatan.

Tingkat pertama adalah kenaikan ekspektasi inflasi secara langsung. Biaya energi merupakan input dasar bagi inflasi inti. Dengan harga minyak di atas USD 93, tekanan inflasi di negara-negara utama akan jauh melampaui proyeksi awal tahun. Lebih penting lagi, ekspektasi inflasi bisa menjadi ramalan yang terpenuhi sendiri: jika pelaku usaha memperkirakan biaya energi naik, harga produk akan dinaikkan lebih awal; jika pekerja memperkirakan daya beli menurun, mereka akan menuntut kenaikan upah. Bahkan lonjakan harga minyak yang singkat dapat memperpanjang persistensi inflasi melalui mekanisme ekspektasi.

Tingkat kedua adalah repricing suku bunga riil. Ketika ekspektasi inflasi naik tetapi suku bunga nominal tetap, suku bunga riil turun secara pasif. Secara historis, suku bunga riil rendah menopang aset non-yield seperti emas dan Bitcoin secara struktural. Namun, siklus kali ini unik: The Fed berada di akhir fase pengetatan, dan inflasi yang kembali naik bisa mengubah titik akhir suku bunga—bukan hanya menunda pemangkasan, tetapi bahkan berpotensi menambah kenaikan.

Tingkat ketiga adalah kenaikan premi risiko sistemik. Konflik geopolitik secara langsung menekan valuasi seluruh aset berisiko. Portofolio institusi secara sistematis mengurangi eksposur risiko, mengalihkan dana dari saham, obligasi high-yield, dan kripto ke kas dan obligasi pemerintah jangka pendek—aset dengan kepastian lebih tinggi.

Perlu dicatat, reli harga minyak kali ini berbeda dari periode sebelumnya. Pada level USD 93, minyak mencetak rekor tertinggi tahunan sejak 2025. Lebih penting lagi, durasi penutupan Selat Hormuz sangat sulit diprediksi—apakah hanya 72 jam, tiga minggu, atau bahkan lebih lama? Ketidakpastian ini mendorong kurva forward komoditas energi ke dalam backwardation yang curam (harga spot jauh di atas harga futures), menandakan kekurangan pasokan akut dalam jangka pendek.

Emas Turun Bersamaan: Mengapa Kerangka Safe Haven Tradisional Gagal

Fenomena paling kontradiktif dalam konflik ini adalah kinerja emas. Menurut logika textbook safe haven, eskalasi ketegangan geopolitik seharusnya mendorong harga emas naik. Faktanya, yang terjadi justru sebaliknya: harga emas spot terus turun setelah eskalasi, menembus di bawah USD 4.200 per troy ounce untuk pertama kalinya sejak Maret 2026, dengan penurunan harian lebih dari 1,5%. Pada awal perdagangan 11 Juni, emas London sempat mendekati USD 4.023 per troy ounce, level terendah sejak November 2025.

Penyimpangan ini disebabkan oleh tiga kekuatan yang saling bertumpuk.

Pertama, eskalasi antara AS dan Iran mendorong harga minyak naik, memicu kekhawatiran inflasi dan memperkuat spekulasi The Fed akan lebih hawkish. Pada hari konflik, pelaku pasar memperkirakan hampir 75% peluang kenaikan suku bunga The Fed hingga akhir tahun. Sebagai aset non-yield, emas menjadi lebih mahal untuk dimiliki di lingkungan suku bunga tinggi, sehingga dana keluar dari emas.

Kedua, status safe haven dolar AS mengalihkan sebagian permintaan tradisional dari emas. Dalam situasi krisis, pelaku pasar lebih mengutamakan likuiditas dibandingkan sekadar aset lindung nilai, sehingga dolar menjadi pelarian yang lebih langsung.

Terakhir, penurunan emas ini mengungkap pergeseran struktural yang lebih dalam: bahkan di tengah guncangan geopolitik besar, pengaruh ekspektasi kebijakan makro jangka pendek kini dapat menetralkan atau bahkan mengalahkan aksi beli safe haven berbasis krisis. Fokus pasar logam mulia telah bergeser dari sekadar "lindung nilai krisis" menjadi interaksi kompleks antara "ketidakpastian geopolitik, ekspektasi kebijakan The Fed, dan risiko stagflasi."

Dualitas Kripto: Aset Berisiko atau Emas Digital?

Aset kripto menunjukkan dinamika paling kompleks selama konflik ini, menampilkan karakteristik aset berisiko sekaligus safe haven. Kontradiksi inilah yang menjadi kunci memahami logika harga kripto saat ini.

Pada tahap awal, BTC lebih berperilaku seperti aset berisiko. Pada 9 Juni, saat ketegangan AS-Iran memuncak, BTC turun sekitar 3,2% sejalan dengan aset berisiko lainnya. Penurunan terbesar terjadi antara 5–6 Juni, ketika Bitcoin anjlok lebih dari 6% ke USD 59.207—pertama kalinya turun di bawah USD 60.000 sejak Oktober 2024. Pada malam 9 Juni, BTC kembali turun di bawah USD 61.000, menyentuh USD 60.892. Lebih dari 110.000 trader dilikuidasi secara global dalam 24 jam, dengan total likuidasi melebihi USD 400 juta.

Namun, di titik paling pesimistis pasar, kripto menunjukkan ciri yang berbeda dari aset berisiko tradisional. Setelah berita penutupan Selat Hormuz dikonfirmasi (awal 11 Juni), BTC rebound 4,1% hanya dalam tiga jam. Pada periode yang sama, emas hanya naik 2,3%, sementara futures S&P 500 turun 1,8%. Divergensi ini menunjukkan sebagian pelaku pasar memperlakukan Bitcoin sebagai penyimpan nilai di tengah risiko geopolitik, mirip dengan fungsi safe haven emas.

Faktor lain adalah sifat perdagangan kripto yang berlangsung 24/7—memungkinkan pasar kripto menyerap guncangan dan menemukan harga lebih cepat. Sebaliknya, likuiditas pasar saham bisa membeku sementara akibat circuit breaker dan penghentian perdagangan, sehingga modal mencari alternatif yang lebih likuid.

Lantas, apakah aset kripto tergolong aset berisiko atau safe haven? Jawabannya, untuk saat ini, keduanya. Pada fase awal peristiwa risiko sistemik, kripto cenderung turun bersama aset berisiko lain, menampilkan volatilitas tinggi. Namun, setelah krisis mencapai ambang tertentu dan likuiditas pasar keuangan tradisional terganggu, fitur settlement independen dan lintas batas kripto menarik arus safe haven tertentu.

Merekonstruksi Logika Harga Makro: Dari Ekspektasi Pelonggaran ke Risiko Pengetatan

Dampak struktural paling signifikan dari konflik geopolitik ini adalah pergeseran ekspektasi pasar terhadap likuiditas global. Pada paruh pertama 2026, narasi utama adalah dimulainya siklus pemangkasan suku bunga. Lonjakan harga minyak kini menulis ulang logika tersebut.

Pada perdagangan pagi 8 Juni, probabilitas pemangkasan suku bunga The Fed tahun ini, menurut kontrak berjangka suku bunga, anjlok dari 72% sebelum konflik. Sifat ekspektasi inflasi yang memperkuat diri sendiri tidak bisa diabaikan: begitu konsumen dan pelaku usaha memperkirakan harga masa depan lebih tinggi, mereka mempercepat pembelian dan negosiasi upah, memicu spiral upah-harga.

Pada tingkat yang lebih dalam, aset kripto menunjukkan korelasi positif tinggi dengan Nasdaq 100 dalam siklus ini. Inti harga mereka telah bergeser dari "aset safe haven murni" menjadi "aset berisiko volatilitas tinggi." Artinya, ketika lingkungan makro mengetat akibat ekspektasi inflasi yang naik, kripto dan saham teknologi menghadapi tekanan serupa.

Ada tiga saluran transmisi utama: Pertama, ekspektasi kenaikan suku bunga mendorong naik suku bunga bebas risiko. Naiknya suku bunga riil mengurangi nilai kini semua aset berdurasi panjang. Kripto, dengan arus kas masa depan yang sangat tidak pasti, sangat sensitif terhadap perubahan tingkat diskonto. Kedua, ekspektasi likuiditas dolar yang lebih ketat. Spekulasi kenaikan suku bunga biasanya memperkuat indeks dolar, dan karena Bitcoin serta kripto utama lain berdenominasi dolar, penguatan dolar biasanya menekan harga mereka. Ketiga, kombinasi premi risiko geopolitik dan ekspektasi inflasi menciptakan tekanan ganda makro.

Hasilnya adalah setup risiko asimetris: Jika konflik cepat mereda dan selat dibuka kembali, penurunan harga minyak bisa menciptakan ruang kebijakan. Jika konflik berlarut, The Fed mungkin dipaksa memilih antara "perlambatan ekonomi" atau "kebangkitan inflasi." Bagi pasar kripto, skenario pertama berarti ekspektasi likuiditas membaik, sementara skenario kedua memperpanjang tekanan makro.

Kesimpulan

Konflik geopolitik Timur Tengah pada Juni 2026 menawarkan studi kasus komprehensif bagi investor global tentang transmisi risiko geopolitik. Dari eskalasi ke lonjakan harga minyak, dari revisi naik ekspektasi inflasi hingga reset jalur kebijakan The Fed, serta respons aset yang berbeda-beda, urutan ini jelas mengungkap logika inti penetapan harga di pasar modal global saat ini.

Penurunan saham AS selama konflik terutama mencerminkan kerentanan valuasi tinggi dan kekhawatiran pasar terhadap kenaikan suku bunga. Penurunan emas secara bersamaan mematahkan kerangka safe haven tradisional, menunjukkan bahwa dalam pasar yang didominasi ekspektasi inflasi dan suku bunga, peran safe haven emas kini tertekan oleh perubahan outlook kebijakan moneter. Kinerja Bitcoin paling kompleks—turun bersama aset berisiko pada awal risiko sistemik, namun pada tahap krisis berikutnya menunjukkan karakteristik safe haven tertentu.

Dualitas ini mendefinisikan posisi unik kripto dalam lingkungan makro saat ini. Kripto tidak dapat menawarkan kepastian seperti obligasi pemerintah jangka pendek, juga belum memiliki rekam jejak safe haven selama ribuan tahun seperti emas. Namun, fitur perdagangan 24/7 dan settlement terdesentralisasi memberikan instrumen lindung risiko yang berbeda dari sistem keuangan tradisional. Konflik geopolitik akan terus terjadi, dan setiap krisis baru akan kembali menguji logika harga aset kripto.

FAQ

Berapa lama konflik geopolitik biasanya berdampak pada pasar kripto?

Durasi dampak konflik geopolitik terhadap pasar kripto sangat bergantung pada lamanya konflik itu sendiri. Konflik singkat (24–48 jam) biasanya memicu aksi jual sesaat yang diikuti rebound cepat. Variabel kuncinya adalah apakah konflik tersebut mengubah jangkar ekspektasi inflasi dan jalur suku bunga. Jika konflik berlarut, aset kripto akan menghadapi tekanan makro yang lebih berkelanjutan.

Mengapa emas tidak berfungsi sebagai safe haven dalam konflik ini?

Alasan mendasar penurunan emas adalah pergeseran fokus pasar dari "permintaan safe haven" ke "ekspektasi inflasi dan suku bunga." Kenaikan harga minyak memicu spekulasi kenaikan suku bunga The Fed, dan sebagai aset non-yield, emas menjadi lebih mahal untuk dimiliki di lingkungan suku bunga tinggi, sehingga terjadi arus keluar. Ini menunjukkan bahwa dalam lingkungan makro yang didominasi inflasi dan suku bunga, efektivitas kerangka safe haven tradisional sangat berkurang.

Apakah Bitcoin lebih merupakan aset berisiko atau safe haven?

Berdasarkan kinerja pasar selama konflik ini, Bitcoin menunjukkan kedua karakteristik tersebut. Pada tahap awal, BTC turun sejalan dengan saham AS dan aset berisiko lain, berperan sebagai aset berisiko. Namun setelah peristiwa ekstrem seperti penutupan Selat Hormuz, BTC rebound secara independen, menandakan masuknya arus safe haven tertentu. Konsensus saat ini: BTC berperilaku sebagai aset berisiko di lingkungan makro yang sangat likuid, tetapi menunjukkan sifat safe haven terbatas saat terjadi guncangan likuiditas ekstrem.

Bagaimana minyak memengaruhi pasar kripto?

Harga minyak memengaruhi kripto melalui tiga saluran: Pertama, saluran ekspektasi inflasi—kenaikan harga minyak mendorong IHK naik, memengaruhi ekspektasi kebijakan moneter. Kedua, saluran suku bunga riil—perubahan ekspektasi inflasi memengaruhi suku bunga riil, yang pada gilirannya berdampak pada harga aset non-yield. Ketiga, saluran selera risiko—lonjakan harga minyak memicu aksi risk-off sistemik, mendorong institusi mengurangi eksposur aset berisiko, termasuk kripto.

Bagaimana sebaiknya investor merespons volatilitas pasar akibat konflik geopolitik?

Meski guncangan geopolitik sulit diprediksi sebelumnya, investor dapat memantau beberapa sinyal kunci: status operasional titik-titik kritis energi seperti Selat Hormuz, besaran pergerakan harga minyak sebelum dan sesudah konflik, perubahan harga kontrak berjangka suku bunga The Fed, serta pergeseran korelasi antara BTC dan aset berisiko tradisional seperti Nasdaq 100. Indikator-indikator ini membantu menentukan apakah suatu peristiwa geopolitik telah berkembang dari guncangan jangka pendek menjadi variabel makro sistemik.

The content herein does not constitute any offer, solicitation, or recommendation. You should always seek independent professional advice before making any investment decisions. Please note that Gate may restrict or prohibit the use of all or a portion of the Services from Restricted Locations. For more information, please read the User Agreement
Like Konten

Bagikan

sign up guide logosign up guide logo
sign up guide content imgsign up guide content img
Sign Up
Log In