Bagaimana Peristiwa Geopolitik Mengubah Penilaian Pasar Kripto?

Pasar
Diperbarui: 07/09/2026 08:54

Pada 8 Juli waktu setempat, Presiden AS Trump secara terbuka menyatakan dalam KTT NATO di Ankara, Turki, bahwa nota kesepahaman yang sebelumnya ditandatangani antara Amerika Serikat dan Iran telah "dihentikan." Kesepakatan sementara ini, yang baru berlaku sejak 17 Juni dan seharusnya memberikan jendela negosiasi selama 60 hari bagi kedua pihak, akhirnya runtuh hanya setelah 22 hari. Sebelumnya, militer AS telah melancarkan beberapa gelombang serangan udara terhadap lebih dari 80 target militer di Iran, sementara Iran membalas dengan menyatakan seluruh pangkalan militer AS di Timur Tengah sebagai "target sah" dan melakukan aksi balasan. Selat Hormuz, yang menangani sekitar seperlima pengiriman minyak dunia, kini menghadapi ancaman serius terhadap keselamatan navigasi.

Akibatnya, harga Bitcoin turun tajam dari atas $64.000 ke kisaran $61.500. Per 9 Juli, BTC telah kembali naik ke sekitar $62.800. Krisis geopolitik ini mengungkap pergeseran struktural yang sedang berlangsung—logika harga Bitcoin mulai bergeser dari narasi "emas digital" sebagai aset lindung nilai menuju kerangka makro sebagai "aset sensitif suku bunga."

Mengapa Bitcoin Tidak Menguat Saat Krisis Geopolitik?

Secara tradisional, eskalasi konflik geopolitik diharapkan mendorong permintaan terhadap aset lindung nilai. Namun, setelah konflik AS-Iran meningkat, Bitcoin tidak mengalami reli independen; justru tertekan dan turun. Pada 8 Juli, BTC anjlok dari level tertinggi intraday $64.100 ke level terendah $61.481, turun 3,5% dalam 24 jam. Pada 9 Juli, BTC diperdagangkan di $62.178, turun 2,0% dalam 24 jam. Ethereum juga melemah, diperdagangkan di $1.740, turun 2,0%.

Total kapitalisasi pasar kripto saat ini sekitar $2,15 triliun, dengan penurunan 24 jam sebesar 2,79%. Indikator sentimen pasar turun ke kisaran 20–23, menandakan "ketakutan ekstrem." Selama 24 jam terakhir, total likuidasi di seluruh jaringan mencapai $327 juta, dengan posisi long menyumbang 62%.

Aksi harga ini menunjukkan bahwa perilaku Bitcoin selama krisis geopolitik semakin berbeda dari "emas digital" dan justru menyerupai aset berisiko dengan beta tinggi.

Bagaimana Harga Minyak, Inflasi, dan Kenaikan Suku Bunga Membentuk Rantai Transmisi Lengkap

Untuk memahami mengapa aset kripto tertekan kali ini, penting untuk memperjelas jalur transmisi penuh dari konflik geopolitik ke pasar kripto.

Langkah pertama adalah guncangan pada pasar energi. Selat Hormuz menangani sekitar seperlima pengiriman minyak dunia. Setelah konflik AS-Iran meningkat, harga minyak mentah WTI menembus $75 per barel, tertinggi sejak 22 Juni; minyak Brent naik ke $78,02 per barel. Beberapa lembaga riset mencatat lalu lintas kapal tanker di Selat Hormuz "pada dasarnya terhenti."

Langkah kedua adalah meningkatnya ekspektasi inflasi. Pasar, berdasarkan pengalaman historis, memperkirakan: harga energi yang lebih tinggi mendorong kenaikan biaya produksi dan transportasi → data inflasi naik kembali → Federal Reserve terpaksa mempertahankan suku bunga tinggi lebih lama, atau bahkan kembali menaikkan suku bunga. Saat ini, inflasi AS secara tahunan naik menjadi 4,1%, jauh di atas target kebijakan The Fed sebesar 2%. Risalah rapat The Fed bulan Juni menunjukkan beberapa anggota percaya harga akan tetap tinggi dan pengetatan lebih lanjut mungkin diperlukan. Pasar memperkirakan peluang kenaikan suku bunga tahun ini sekitar 75%.

Langkah ketiga, ekspektasi suku bunga menekan aset tanpa imbal hasil. Lingkungan suku bunga tinggi selalu menjadi hambatan utama bagi aset tanpa imbal hasil. Bitcoin dan Ethereum, yang keduanya tidak menghasilkan bunga, dihargai dengan logika yang sama. Indeks Dolar AS stabil di sekitar 101,00 setelah eskalasi konflik, semakin menambah tekanan agar modal mengalir dari aset berisiko kembali ke mata uang safe haven.

Bitcoin Sedang Dihargai Ulang: Dari Aset Risiko Menjadi Aset Sensitif Suku Bunga

Sejak 2026, respons Bitcoin terhadap beberapa peristiwa geopolitik menunjukkan ketidakkonsistenan yang jelas. Pada Februari, setelah serangan udara AS-Israel ke Iran, harga emas naik sementara Bitcoin turun. Pada Mei, saat negosiasi AS-Iran berulang kali menemui jalan buntu, Bitcoin pada dasarnya mengikuti pergerakan pasar saham AS. Kali ini, setelah serangan militer besar-besaran AS, Bitcoin kembali gagal melepaskan diri dari sentimen risiko pasar yang lebih luas.

Faktor struktural umum yang mendasari ketidakkonsistenan ini adalah: pasar semakin melihat guncangan terkait perang sebagai peristiwa suku bunga, bukan sekadar peristiwa lindung nilai. Pergerakan harga Bitcoin kini lebih erat mengikuti imbal hasil obligasi pemerintah AS jangka pendek dibandingkan aset lindung nilai tradisional seperti emas.

Ini berarti kekuatan penentu harga Bitcoin sebagian telah bergeser dari "narasi geopolitik" ke "narasi likuiditas dolar AS." Investor institusi memperdagangkan Bitcoin sebagai aset berisiko—saat konflik pecah, aset ini sering menjadi yang pertama dijual.

Penurunan Emas Secara Bersamaan Mengonfirmasi Logika Transmisi Suku Bunga

Kinerja emas selama krisis ini memberikan validasi silang yang penting. Secara tradisional, konflik geopolitik diharapkan mendorong permintaan emas, namun harga emas justru turun. Pada 9 Juli, kontrak berjangka emas COMEX ditutup turun 1,7% di $4.086,6 per ons; emas spot diperdagangkan di kisaran $4.070. Emas kini telah turun selama tiga sesi berturut-turut.

Alasan utamanya sama seperti pada Bitcoin: kenaikan harga minyak memicu ekspektasi inflasi, yang berarti The Fed harus mempertahankan suku bunga tinggi lebih lama—lingkungan suku bunga tinggi menjadi hambatan utama bagi aset tanpa imbal hasil seperti emas. Bitcoin dan emas menghadapi tekanan makro yang sama: bukan geopolitik itu sendiri yang menentukan harga, melainkan ekspektasi kebijakan moneter yang dipicu oleh geopolitik.

Keduanya berbagi rantai transmisi yang sama: guncangan geopolitik → kenaikan harga minyak → ekspektasi inflasi → ekspektasi kenaikan suku bunga → tekanan pada aset tanpa imbal hasil. Konsistensi logika ini menjelaskan mengapa Bitcoin dan emas sama-sama melemah selama krisis ini.

Bagaimana Krisis Selat Hormuz Membentuk Ulang Penetapan Harga Aset Global

Status Selat Hormuz menjadi variabel kunci yang akan menentukan durasi dan intensitas rantai transmisi ini.

Saat ini, meskipun selat secara "teknis terbuka," banyak kapal tetap harus mengikuti rute dan protokol keamanan tertentu, biaya asuransi masih tinggi, dan sebagian perusahaan pelayaran tetap berhati-hati. Meski biaya asuransi terkait perang telah turun dari puncak 5–10% dari nilai kapal menjadi sekitar 2%, angka ini masih 20 kali lipat dari tarif normal kurang dari 0,1% pada tahun-tahun biasa. Selat ini juga masih menyimpan risiko ranjau, dan sistem navigasi satelit global sering mengalami gangguan di wilayah tersebut.

Jika lalu lintas di selat tetap terbatas, harga minyak kemungkinan akan mempertahankan premi risiko tinggi. Hal ini akan memperpanjang tekanan inflasi dan menunda ekspektasi pasar terhadap pergeseran kebijakan The Fed ke arah yang lebih longgar. Sebagai aset berisiko, pasar kripto akan terus menghadapi tekanan di ujung rantai transmisi ini.

Apakah Risiko Sudah Sepenuhnya Tercermin di Pasar?

Saat ini terdapat perbedaan pandangan yang mencolok di pasar: sebagian pihak menilai penurunan BTC yang terbatas menunjukkan ketahanan pasar yang meningkat, sementara pihak lain berpendapat risiko pasar justru sangat diremehkan.

Data yang mendukung argumen "ketahanan" antara lain: penurunan BTC secara keseluruhan relatif terbatas, tidak ada aksi jual panik seperti pada episode sebelumnya; pasar derivatif on-chain tidak mengalami likuidasi berantai berskala besar, dan risiko leverage masih relatif terjaga. Semakin banyak modal mulai memandang Bitcoin sebagai aset dengan karakteristik lindung nilai inflasi sekaligus safe haven.

Namun, terdapat pula bukti kuat untuk pandangan "diremehkan": hampir terhentinya lalu lintas kapal tanker di Selat Hormuz berarti risiko nyata gangguan pasokan energi global; risalah rapat The Fed bulan Juni menunjukkan inflasi "masih jauh di atas" target jangka panjang 2%; dan meski pasar memperkirakan peluang kenaikan suku bunga pada Juli kurang dari 30%, peluang untuk September telah naik di atas 50%.

Kesimpulan

Setelah Trump menyatakan gencatan senjata AS-Iran "berakhir," harga Bitcoin turun dari atas $64.000 ke kisaran $61.500, lalu rebound ke sekitar $62.800 pada 9 Juli. Secara kasat mata, ini tampak sebagai koreksi jangka pendek akibat guncangan geopolitik, namun logika mendasar mengungkap pergeseran struktural yang sedang berlangsung di pasar kripto.

Logika harga Bitcoin bergerak dari narasi "emas digital" sebagai aset lindung nilai menuju kerangka makro sebagai "aset sensitif suku bunga." Konflik geopolitik tidak lagi secara langsung mendorong harga BTC naik; sebaliknya, dampaknya ke pasar kripto terjadi secara tidak langsung melalui rantai lengkap harga minyak → inflasi → kenaikan suku bunga, sehingga menekan aset tanpa imbal hasil. Penurunan emas secara bersamaan menjadi validasi silang atas logika ini.

Arah pasar ke depan akan sangat bergantung pada apakah Selat Hormuz dapat kembali beroperasi normal. Jika volume pengiriman tetap rendah, harga minyak kemungkinan akan terus membawa premi risiko; tekanan inflasi akan terus menahan kebijakan moneter The Fed; dan pasar kripto, sebagai aset berisiko, akan tetap tertekan di ujung rantai ini.

Dalam jangka pendek, kecuali situasi geopolitik menjadi lebih jelas, pasar kemungkinan akan tetap bergejolak. Dalam jangka menengah, data CPI Juli dan rapat FOMC The Fed pada 28–29 Juli akan menjadi titik balik penting.

FAQ

T: Mengapa Bitcoin turun alih-alih naik setelah konflik AS-Iran meningkat?

Logika harga Bitcoin sedang bergeser dari "aset lindung nilai" menjadi "aset sensitif suku bunga." Konflik geopolitik mendorong kenaikan harga minyak, yang pada gilirannya meningkatkan ekspektasi inflasi. Ekspektasi inflasi yang meningkat berarti The Fed harus mempertahankan suku bunga tinggi atau bahkan menaikkannya lagi, dan lingkungan suku bunga tinggi menekan aset tanpa imbal hasil seperti Bitcoin. Ini membentuk rantai transmisi yang lengkap.

T: Mengapa Bitcoin dan emas berperilaku serupa selama krisis ini?

Keduanya menghadapi tekanan makroekonomi yang sama. Emas juga tertekan dan turun karena kenaikan harga minyak mendorong ekspektasi inflasi dan kekhawatiran kenaikan suku bunga. Penurunan keduanya secara bersamaan memvalidasi konsistensi logika transmisi "guncangan geopolitik → harga minyak → inflasi → suku bunga."

T: Seberapa penting Selat Hormuz bagi pasar kripto?

Selat Hormuz menangani sekitar seperlima pengiriman minyak dunia. Gangguan dalam lalu lintas kapal secara langsung mendorong kenaikan harga minyak, yang kemudian memengaruhi ekspektasi inflasi dan jalur suku bunga The Fed, pada akhirnya membentuk lingkungan harga bagi aset kripto. Ini saat ini menjadi variabel makro paling krusial yang dihadapi pasar kripto.

T: Apakah narasi "emas digital" untuk Bitcoin telah gagal?

Dalam jangka pendek, perilaku Bitcoin selama krisis geopolitik memang semakin tidak menyerupai emas. Namun, tren ini masih membutuhkan waktu untuk benar-benar tervalidasi. Sifat Bitcoin sebagai penyimpan nilai jangka panjang dan sensitivitasnya terhadap suku bunga dalam jangka pendek bukanlah dua hal yang saling meniadakan—kuncinya terletak pada jangka waktu investasi yang dipilih investor.

The content herein does not constitute any offer, solicitation, or recommendation. You should always seek independent professional advice before making any investment decisions. Please note that Gate may restrict or prohibit the use of all or a portion of the Services from Restricted Locations. For more information, please read the User Agreement

Bagikan

sign up guide logosign up guide logo
sign up guide content imgsign up guide content img
Sign Up
Log In