Dari Aset Safe-Haven Menjadi Aset Berbunga: Pergeseran Fundamental dalam Logika Penetapan Harga Emas pada Tahun 2026

Pasar
Diperbarui: 2026/07/20 07:18

Pada dini hari tanggal 20 Juli waktu Beijing, pasar keuangan global mengalami volatilitas tajam saat sesi perdagangan Asia dimulai. Harga minyak internasional melonjak, dengan Brent crude futures menembus level $91 per barel untuk pertama kalinya sejak 11 Juni, sementara WTI crude naik melewati $84 per barel. Hingga saat artikel ini diterbitkan, data pasar Gate menunjukkan WTI crude berada di $83,82 per barel, naik 2,49%, dan Brent crude di $90,74 per barel, naik 3,00%.

Berbeda dengan pasar minyak yang bergairah, logam mulia justru melemah secara kolektif. Harga spot emas turun di bawah level psikologis $4.000, mencapai titik terendah intraday di $3.982,32 per ons. Harga emas London turun 0,44% pada hari itu, tercatat di $4.000,558 per ons.

Secara tradisional, pepatah "ketika meriam menggelegar, emas bernilai seribu tael" selalu terbukti di pasar keuangan. Rantai klasik—konflik geopolitik meningkat → permintaan aset safe haven naik → modal mengalir ke emas → harga emas naik—telah berulang kali divalidasi selama beberapa dekade terakhir. Namun, pasar di tahun 2026 sedang menulis ulang pola ini. Ketika perang mendorong kenaikan harga energi, memicu ekspektasi inflasi dan kekhawatiran kenaikan suku bunga, apakah emas masih menjadi aset safe haven utama?

Pengiriman di Selat Hormuz Terhenti: Uji Ketahanan Risiko Geopolitik

Pemicu langsung volatilitas pasar kali ini berasal dari Selat Hormuz. Menurut laporan 19 Juli dari Fars News Agency Iran yang dikutip oleh Xinhua News Agency, volume pengiriman melalui Selat Hormuz turun menjadi nol, tidak ada kapal yang melintas saat ini. Iran menegaskan bahwa setiap upaya melintasi selat akan dihadapi dengan kekuatan, dan selama AS terus melakukan "tindakan permusuhan dan provokatif", selat akan tetap ditutup.

Selat Hormuz adalah salah satu jalur pengiriman minyak paling vital di dunia, dengan sekitar sepertiga perdagangan minyak laut melewati jalur ini. Jika jalur ini benar-benar terputus, dampaknya terhadap pasokan energi global sudah jelas. Sementara itu, konflik darat di Timur Tengah juga meningkat. Pasukan AS telah melancarkan serangan udara ke Iran selama sembilan malam berturut-turut, sementara pasukan Iran memulai fase ketujuh belas operasi drone "Lightning" pada dini hari, kembali menargetkan pangkalan AS di Kuwait. Pada 19 Juli, Komando Pusat AS melaporkan seorang prajurit AS tewas dalam misi terkait Iran di Irak utara.

Berdasarkan logika safe haven tradisional, tingkat risiko geopolitik setinggi ini seharusnya mendorong arus modal besar-besaran ke emas. Namun kenyataannya justru sebaliknya—emas tidak hanya gagal rebound, tetapi terus tertekan setelah turun di bawah $4.000. Hal ini menunjukkan bahwa pasar kini bergerak dengan rantai logika yang benar-benar berbeda.

Mengapa Kenaikan Harga Minyak Kini Menjadi "Katalis Terbalik" untuk Emas?

Hal paling unik dari pergerakan pasar kali ini adalah risiko geopolitik justru memicu lonjakan harga minyak, bukan emas.

Brent crude melonjak lebih dari 16% pekan lalu, menandai kenaikan mingguan terbesar dalam tiga bulan terakhir. Per 20 Juli, Brent crude tercatat di $90,32 per barel, naik 2,52% pada hari itu. Penyebab langsung lonjakan harga minyak adalah risiko gangguan pasokan—pengiriman melalui Selat Hormuz terhenti, memutus rantai pasokan minyak global. Menurut JPMorgan, persediaan minyak mentah global (di luar Tiongkok) telah turun ke titik terendah dalam sejarah, membuat pasar "hampir tidak punya ruang untuk kesalahan".

Namun, kenaikan harga minyak bukanlah berkah bagi emas—justru menjadi sumber tekanan. Rantai transmisinya adalah sebagai berikut:

Harga minyak naik → biaya transportasi meningkat → harga komoditas naik → ekspektasi inflasi meningkat

Saat pasar mulai menyesuaikan harga inflasi, ekspektasi terhadap kebijakan moneter Federal Reserve ikut berubah. Presiden Fed Cleveland, Beth Hammack, baru-baru ini bergabung dengan semakin banyak pejabat Fed yang mengungkapkan kekhawatiran tentang inflasi yang persisten melalui postingan di LinkedIn. Trader swap telah memasukkan setidaknya satu kenaikan suku bunga hingga akhir tahun 2026.

Menurut "FedWatch" CME, per 20 Juli, probabilitas Fed mempertahankan suku bunga di bulan Juli sebesar 85,6%, namun peluang kenaikan kumulatif 25 basis poin pada September naik menjadi 53,5%. Probabilitas ini sempat mendekati 50% pada pertengahan Juli. Pasar dengan cepat menyesuaikan jalur kenaikan suku bunga.

Apa arti ekspektasi kenaikan suku bunga bagi emas? Emas tidak menghasilkan pendapatan bunga. Ketika imbal hasil obligasi AS naik dan suku bunga riil meningkat, biaya peluang memegang emas naik, sehingga daya tariknya menurun secara alami. Analis Mitsubishi UFJ Financial Group, Soojin Kim, merangkum dengan baik: "Pergerakan harga terbaru menunjukkan bahwa pasar lebih fokus pada kemungkinan suku bunga AS tetap tinggi lebih lama, daripada peran safe haven tradisional emas. Hal ini membuat emas rentan terhadap tekanan."

Model Tiga Faktor: Mengapa Logika Safe Haven Emas Kali Ini Rusak?

Penentuan harga emas dapat diuraikan menjadi tiga variabel inti: permintaan safe haven, arah pergerakan dolar AS, dan suku bunga riil.

Saat ini, ketiga variabel ini tidak selaras:

  • Permintaan safe haven ↑ : Ketegangan AS-Iran terus meningkat, Selat Hormuz ditutup, dan risiko geopolitik tinggi
  • Suku bunga riil ↑ : Ekspektasi inflasi akibat kenaikan harga minyak meningkat, taruhan kenaikan suku bunga Fed memanas, dan imbal hasil obligasi AS naik
  • Dolar AS ↑/→ : Dolar menguat sebagai aset safe haven, menambah tekanan pada emas

Ketika tekanan naik dari suku bunga riil melebihi permintaan safe haven, harga emas turun. Inilah kontradiksi utama di pasar saat ini.

Logika ini sudah terlihat saat konflik Rusia-Ukraina tahun 2022—saat itu indeks dolar menembus 114, menekan harga emas. Namun konflik AS-Iran tahun 2026 jauh lebih kompleks: konflik langsung mengganggu rantai pasokan energi global, dan dampak minyak terhadap inflasi lebih cepat dan nyata.

Laporan "2026 Mid-Year Gold Market Outlook" dari World Gold Council sebelumnya mencatat bahwa harga emas akan dibentuk oleh campuran ketidakpastian geopolitik, suku bunga, dan sentimen investor. Laporan tersebut memperkirakan Fed akan menaikkan suku bunga setidaknya sekali pada tahun 2026, kemungkinan pada Oktober. Investasi emas akan mencapai titik kritis pada paruh kedua tahun ini.

Dari "Aset Safe Haven" ke "Aset Suku Bunga": Logika Penentuan Harga Emas Sedang Bergeser

Melihat kembali kinerja emas saat krisis geopolitik terbaru, evolusi logika penentuan harganya semakin jelas:

Pandemi COVID-19 2020: Permintaan safe haven ditambah pelonggaran moneter global mendorong emas naik. Pendorong: safe haven + pelonggaran.

Konflik Rusia-Ukraina 2022: Risiko perang langsung memicu arus safe haven ke emas. Pendorong: risiko perang.

Siklus pemotongan suku bunga 2024–2025: Ekspektasi pelonggaran moneter mendominasi pergerakan emas. Pendorong: ekspektasi pemotongan suku bunga.

Konflik AS-Iran 2026: Perang mendorong kenaikan harga minyak → ekspektasi inflasi naik → kekhawatiran kenaikan suku bunga → emas tertekan. Pendorong: perang + inflasi + ekspektasi suku bunga tinggi.

Emas sedang bertransformasi dari "aset safe haven murni" menjadi "aset trading suku bunga makro". Di bawah ekspektasi suku bunga tinggi, kinerja emas tidak lagi mengikuti tradisi—dukungan risiko geopolitik terhadap harga emas kini dikalahkan oleh ekspektasi suku bunga.

Akar perubahan ini adalah jalur transmisi konflik kali ini berbeda dari sebelumnya. Bukan sekadar peristiwa risiko, melainkan "risiko geopolitik → guncangan energi → inflasi → pengetatan moneter" yang kompleks. Logika penentuan harga pasar telah melampaui kerangka linier sederhana "peristiwa risiko → rally safe haven".

Modal Spekulatif Masih Bertaruh: Bull dan Bear di Titik Kritis

Meski harga emas tertekan, tidak semua modal keluar dari pasar.

Data CFTC menunjukkan bahwa untuk pekan yang berakhir 14 Juli, spekulan emas COMEX meningkatkan posisi net long sebesar 4.294 kontrak menjadi 119.147 kontrak. Ini menandakan bahwa meski harga terkoreksi, sebagian investor institusi masih bertaruh pada tren naik jangka panjang emas.

Arus ETF emas juga mulai divergen. Pada Mei, ETF emas global mencatat outflow sekitar $1,8 miliar, namun pada Juli, ETF emas mulai mengalami inflow kembali. Data menunjukkan net subscription ETF emas mencapai 960 juta lembar pada Juli. Per 7 Juli, total ukuran pasar ETF emas mencapai 220.142 miliar yuan.

Pertarungan antara bull dan bear berada di titik kritis. Di satu sisi, ekspektasi kenaikan suku bunga membatasi harga emas; di sisi lain, risiko geopolitik belum teratasi, dan sebagian investor masih memperhitungkan ketidakpastian.

Dua Skenario untuk Fase Berikutnya Harga Emas

Skenario bullish:

Jika risiko geopolitik terus meningkat—gangguan berkepanjangan di Selat Hormuz, atau konflik yang meluas—permintaan safe haven emas bisa kembali memimpin. Selain itu, jika data inflasi turun lebih dari perkiraan, ekspektasi kenaikan suku bunga Fed bisa mereda, memberi ruang bagi emas. Menurut CICC Macro, tekanan pada lapangan kerja dan konsumsi, serta kebutuhan pembiayaan yang meningkat dari ekonomi AS berbasis AI, dapat membuat Fed sulit benar-benar hawkish, sehingga kebijakan menjadi "hawkish di nama, dovish di praktik".

Skenario bearish:

Jika harga minyak terus naik dan mendorong data inflasi lebih tinggi, ekspektasi pasar terhadap kenaikan suku bunga Fed akan semakin kuat. Laporan terbaru ANZ mencatat bahwa ekspektasi kenaikan suku bunga Fed akan terus membatasi upside emas dalam jangka pendek. Jika pasar benar-benar memperhitungkan kenaikan suku bunga tambahan, emas bisa menguji rentang $3.800–$3.900.

Survei Wall Street terbaru menunjukkan dari 14 analis, 11 bearish terhadap outlook jangka pendek emas, hanya satu yang memperkirakan harga naik. Namun, beberapa institusi percaya bahwa meski emas turun di bawah $4.000, downside-nya terbatas. Bank of America memangkas proyeksi rata-rata harga emas tahun 2026 sebesar 14% menjadi $4.360 per ons, namun masih melihat potensi emas mencapai $6.000 pada 2027.

Kesimpulan

Level $4.000 untuk emas bukan sekadar batas harga—ini adalah medan pertempuran dua logika penentuan harga yang saling bertentangan. Di satu sisi narasi safe haven tradisional—risiko geopolitik yang meningkat seharusnya mendorong harga emas naik. Di sisi lain narasi suku bunga yang sedang berkembang—ekspektasi inflasi dan kekhawatiran kenaikan suku bunga menekan daya tarik emas.

Pasar tahun 2026 mengajarkan investor satu kebenaran sederhana: perang tidak selalu menjamin rally emas. Pergerakan emas bergantung pada bagaimana perang membentuk ekspektasi kebijakan moneter—ketika perang mendorong kenaikan harga energi dan memicu inflasi, daya tarik safe haven emas bisa diimbangi oleh tekanan suku bunga.

Saat ini pasar berada di titik keseimbangan antara bull dan bear. Risiko geopolitik belum sirna, modal spekulatif masih bertaruh, namun bayang-bayang ekspektasi kenaikan suku bunga juga membayangi. Tarik-menarik di level $4.000 mungkin merupakan manifestasi nyata dari perubahan logika penentuan harga ini.

FAQ

T: Mengapa harga emas turun meski ketegangan AS-Iran meningkat?

Konflik AS-Iran mendorong kenaikan harga minyak, yang pada gilirannya memicu kekhawatiran inflasi dan mendorong pasar bertaruh pada kenaikan suku bunga Fed. Kenaikan suku bunga berarti suku bunga riil lebih tinggi, meningkatkan biaya peluang memegang emas dan menyebabkan modal keluar dari emas. Pendorong utama penurunan emas kali ini bukan kurangnya permintaan safe haven, melainkan ekspektasi kenaikan suku bunga yang mengalahkan logika safe haven.

T: Apakah level $4.000 masih menjadi support bagi emas?

Dalam jangka pendek, $4.000 adalah level psikologis dan teknikal yang penting. Beberapa institusi percaya ada dukungan beli saat emas turun di bawah level ini, namun analis juga memperingatkan jika ekspektasi kenaikan suku bunga semakin intens, emas bisa menguji rentang $3.800–$3.900.

T: Apakah Fed benar-benar akan menaikkan suku bunga pada 2026?

Data CME menunjukkan pasar saat ini melihat peluang 53,5% untuk kenaikan 25 basis poin sebelum September. Namun pandangan institusi berbeda—chief economist Natixis memperkirakan tidak ada kenaikan suku bunga pada 2026, sementara World Gold Council menyatakan pasar sudah memperhitungkan setidaknya satu kenaikan.

T: Apakah emas masih dianggap aset safe haven?

Atribut safe haven emas belum hilang, namun di lingkungan suku bunga tinggi, logika penentuan harganya bergeser dari "aset safe haven murni" menjadi "aset trading suku bunga makro". Ketika risiko geopolitik menular ke harga minyak, lalu ke inflasi dan suku bunga, fungsi safe haven emas bisa diimbangi oleh tekanan suku bunga.

T: Bagaimana investor sebaiknya menyikapi volatilitas emas saat ini?

Fokus pada dua variabel inti: status pengiriman di Selat Hormuz (yang menentukan tren harga minyak) dan data inflasi AS (yang menentukan arah kebijakan Fed). Emas berada di titik kritis antara bull dan bear, dan tarik-menarik antara risiko geopolitik dan ekspektasi kenaikan suku bunga akan menentukan outlook jangka pendek.

The content herein does not constitute any offer, solicitation, or recommendation. You should always seek independent professional advice before making any investment decisions. Please note that Gate may restrict or prohibit the use of all or a portion of the Services from Restricted Locations. For more information, please read the User Agreement

Bagikan

sign up guide logosign up guide logo
sign up guide content imgsign up guide content img
Sign Up
Log In