Bitcoin Turun di Bawah $80.000: Ketegangan AS-Iran Picu Likuidasi Lebih dari $300 Juta, Indeks Ketakutan Anjlok

Pasar
Diperbarui: 08/05/2026 09:11

Per 8 Mei 2026, harga Bitcoin berada di $79.900, setelah menyentuh titik terendah intraday di $79.200 dalam 24 jam terakhir—turun lebih dari 4% dari puncak terbaru $82.800 pada 6 Mei. Beberapa hari sebelumnya, Bitcoin sempat menembus angka $80.000 dan mempertahankan level psikologis penting ini. ETH juga menunjukkan pelemahan serupa, turun ke $2.285, dan kini berada di bawah rata-rata pergerakan jangka pendek maupun menengah untuk beberapa sesi berturut-turut. Sinyal teknikal yang menunjukkan struktur melemah muncul di berbagai kerangka waktu. Sementara itu, Crypto Fear and Greed Index anjlok dari 47 menjadi 38 dalam semalam—penurunan 9 poin—menggeser sentimen pasar dari netral langsung ke zona ketakutan. Dalam 24 jam terakhir, lebih dari 100.000 trader di seluruh pasar mengalami likuidasi, dengan total kerugian mencapai sekitar $341 juta. Semua data ini mengarah pada satu pertanyaan utama: Bagaimana koreksi harga yang dipicu oleh guncangan geopolitik bisa berkembang menjadi gelombang likuidasi paksa di seluruh pasar? Jawabannya terurai dalam tiga rantai peristiwa yang saling terkait.

Bagaimana Konflik di Selat Hormuz Mempengaruhi Harga Bitcoin?

Meskipun setiap pergerakan harga bisa dipengaruhi oleh berbagai faktor, titik awal penurunan kali ini jelas. Pada 7 Mei, tiga kapal perusak rudal berpemandu milik Angkatan Laut AS diserang oleh beberapa misil dan drone yang diluncurkan Iran saat melintasi Selat Hormuz. Militer AS merespons dengan menyerang fasilitas militer Iran yang bertanggung jawab atas serangan tersebut. Meski AS menyatakan tidak ingin eskalasi, konflik ini langsung berdampak pada harga aset berisiko global.

Peristiwa ini memicu reaksi berantai di pasar kripto melalui tiga mekanisme utama:

Pertama, keterkaitan harga minyak. Selat Hormuz merupakan jalur pengiriman minyak paling vital di dunia. Tindakan militer Iran di kawasan tersebut langsung meningkatkan kekhawatiran akan gangguan pasokan. Kontrak berjangka minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) melonjak hampir 4%, imbal hasil obligasi AS tenor 10 tahun naik, dan dolar AS menguat. Bagi pasar kripto, lonjakan harga minyak mengindikasikan ekspektasi inflasi yang meningkat, sehingga memicu kekhawatiran bahwa pengetatan moneter akan berlangsung lebih lama atau pemotongan suku bunga akan tertunda. Di ruang aset kripto yang sangat sensitif terhadap likuiditas, transmisi ini terjadi bahkan lebih cepat dibanding pasar keuangan tradisional.

Kedua, efek decoupling risk-off. Dalam alokasi aset safe-haven, emas sempat naik merespons konflik sebelum akhirnya terkoreksi, sementara kenaikan imbal hasil obligasi mencerminkan mengecilnya selera risiko. Bitcoin, sebagai aset digital berisiko tinggi, gagal menunjukkan kualitas "emas digital" sebagai pelindung nilai di tengah ketidakpastian yang meningkat. Sebaliknya, Bitcoin bergerak sejalan dengan aset berisiko lain seperti saham AS, menunjukkan korelasi beta klasik.

Ketiga, aksi ambil untung oleh trader bullish. Sejak rebound dari titik terendah akhir April, Bitcoin telah naik lebih dari 37%, mendorong banyak pemegangnya untuk mengunci keuntungan di sekitar level $80.000, sehingga menambah tekanan jual. Ketiga faktor ini bersatu membuat Bitcoin mengalami tekanan jual lebih besar dibanding aset tradisional begitu sentimen pasar berubah.

Mengapa Level $80.000 Menjadi "Katup Pemicu" Likuidasi Long?

Penurunan dari atas $82.000 ke bawah $80.000 memang terlihat kecil—kurang dari 3%—namun memicu likuidasi besar-besaran di pasar derivatif kripto yang sangat terleveraged. Per 8 Mei, total likuidasi pasar mencapai sekitar $345 juta, dengan likuidasi long Bitcoin sebesar $84,36 juta dan likuidasi long ETH sebesar $93,75 juta. Namun, data paling krusial terletak pada dinamika struktural tepat di bawah ambang $80.000.

Sebelum Bitcoin turun di bawah $80.000, terdapat sekitar $1,5 miliar posisi long terleveraged yang terkonsentrasi tepat di bawah harga saat ini, sementara volume likuidasi short di atasnya hanya sekitar $300 juta—imbalance mencolok 5:1. Artinya, begitu harga jatuh di bawah $80.000, posisi long di bawahnya menghadapi likuidasi paksa sistemik, dengan posisi short di atas yang tidak cukup untuk menahan harga. Setelah level ini ditembus, efek domino likuidasi berantai pun dimulai—setiap gelombang penjualan paksa mendorong harga semakin rendah, memicu likuidasi yang lebih dalam. ETH juga menghadapi tekanan likuidasi berat di sekitar $2.400, memperbesar risiko penurunan pasar secara keseluruhan.

Selain itu, rasio leverage estimasi pada futures Bitcoin telah mencapai level tertinggi tahun ini, mencerminkan optimisme pasar yang sebelumnya berlebihan. Ketika leverage setinggi ini, fluktuasi harga kecil saja bisa memicu likuidasi skala besar. Tingkat pendanaan Bitcoin sudah negatif selama 67 hari berturut-turut, menandakan struktur leverage long-short yang sangat tegang. Gabungan data ini menjelaskan skala peristiwa likuidasi kali ini: bukan "crash" yang menyebabkan kehancuran, melainkan loop feedback di mana penurunan harga memicu likuidasi, dan likuidasi tersebut mempercepat penurunan lebih lanjut.

Apa Makna Penurunan 9 Poin pada Fear Index terhadap Sentimen Pasar?

Menurut Alternative.me, Crypto Fear and Greed Index turun ke angka 38 pada 8 Mei—penurunan 9 poin dari hari sebelumnya di angka 47—menandai pergeseran dari zona netral ke zona ketakutan. Ini merupakan salah satu pergerakan satu hari paling tajam dalam sejarah indeks tersebut dan membawa dua implikasi utama:

Pertama, mengonfirmasi titik infleksi sentimen. Pada hari-hari perdagangan sekitar Bitcoin menembus $80.000, pasar menunjukkan sinyal optimisme—seperti arus masuk bersih besar ke ETF spot Bitcoin pada 5 Mei, serta harga yang stabil meski tingkat pendanaan futures negatif. Namun, pecahnya konflik geopolitik dengan cepat membalikkan sentimen. Penurunan 9 poin pada Fear Index dari 7 ke 8 Mei menunjukkan mekanisme pertahanan psikologis telah aktif, dengan aversi risiko beralih dari "mengurangi posisi dan menunggu" menjadi "keluar secara penuh".

Kedua, menyoroti interaksi antara data sentimen dan aksi harga. Dalam 7 hari terakhir, indeks rata-rata di angka 44; dalam 30 hari terakhir, rata-rata di angka 30. Meski angka saat ini 38 belum masuk kategori ketakutan ekstrem, penurunan 9 poin dalam sehari mencerminkan volatilitas sentimen yang signifikan. Data historis menunjukkan penurunan tajam semacam ini sering menyebabkan kedalaman perdagangan menipis dan spread bid-offer melebar, sehingga memperbesar momentum penurunan harga.

Mengapa BTC dan ETH Menunjukkan Tren yang Berbeda?

Penurunan kali ini memperlihatkan perbedaan struktur yang jelas antara BTC dan ETH, yang layak dianalisis dari beberapa aspek.

Dari perspektif aksi harga dan on-chain, Bitcoin turun dari atas $82.000 ke bawah $80.000, sementara ETH turun dari atas $2.400 ke bawah rata-rata pergerakan jangka pendek dan menengah hingga $2.285. Persentase penurunan ETH sedikit lebih besar, dan indikator teknikalnya menunjukkan tren pelemahan yang lebih jelas.

Dari sisi arus modal dan preferensi pasar, laporan terbaru Fidelity menunjukkan modal masih sangat terkonsentrasi di Bitcoin. Dibanding altcoin yang lebih berisiko dan kurang likuid, investor lebih memilih alokasi ke BTC yang memiliki konsensus lebih kuat. Meski aktivitas on-chain ETH tetap stabil, momentum harganya lemah dan penggunaan riil belum mendorong pembelian berkelanjutan.

Akar divergensi struktur ini terletak pada validasi pasar jangka panjang Bitcoin, yang telah membangun basis alokasi institusional yang relatif solid serta narasi "emas digital" yang kuat. Walaupun Ethereum mendominasi ekosistem aplikasi terdesentralisasi, ia menghadapi persaingan dari chain publik lain, dan arus masuk ETF tertinggal jauh dari Bitcoin. Di lingkungan makro yang penuh ketidakpastian, modal cenderung mengalir ke aset dengan konsensus paling kuat—tren yang semakin nyata dalam penurunan kali ini.

Apakah Ketegangan AS-Iran Menjadi Risiko Struktural bagi Pasar Kripto?

Konflik AS-Iran yang berlangsung bukan sekadar guncangan jangka pendek bagi pasar kripto; bisa menjadi faktor risiko struktural. Dari perspektif penetapan harga aset, ketegangan geopolitik Timur Tengah mempengaruhi pasar kripto melalui dua saluran utama:

Pertama, premi ketidakpastian yang terus-menerus. Setiap eskalasi—meski cepat diselesaikan—meninggalkan ekspektasi risiko baru di pasar. Ini berarti aset kripto akan menghadapi pemicu volatilitas yang lebih sering dan lingkungan penetapan harga risiko yang lebih kompleks dalam waktu dekat.

Kedua, interkoneksi yang lebih besar antar aset berisiko global. Guncangan harga minyak akibat konflik geopolitik dan meningkatnya ekspektasi inflasi menciptakan variabel baru bagi kebijakan moneter bank sentral di seluruh dunia, menekan likuiditas aset kripto dalam jangka panjang. Struktur pasar kripto saat ini sudah rapuh, dan tekanan geopolitik berkelanjutan akan semakin memperbesar volatilitas non-linear yang didorong mekanisme leverage dan sentimen.

Kesimpulan

Penurunan Bitcoin di bawah $80.000 kali ini pada dasarnya merupakan pelepasan risiko struktural yang terkonsentrasi, dipicu oleh peristiwa geopolitik. Konflik AS-Iran di Selat Hormuz memicu rantai transmisi dari harga minyak ke ekspektasi inflasi hingga aset kripto. Tembusnya level psikologis $80.000 memicu gelombang likuidasi posisi terleveraged, menggeser sentimen pasar dari netral ke ketakutan. Divergensi aksi harga dan arus modal antara BTC dan ETH mencerminkan kecenderungan pasar untuk terkonsentrasi pada aset dengan konsensus terkuat di tengah ketidakpastian. Ketidakpastian geopolitik yang berkelanjutan kini menjadi risiko struktural bagi pasar kripto, membentuk loop volatilitas yang saling memperkuat dengan struktur leverage tinggi pasar itu sendiri.

Pertanyaan yang Sering Diajukan (FAQ)

Q1: Apa pemicu langsung penurunan Bitcoin di bawah $80.000?

Pemicu langsungnya adalah konflik militer antara AS dan Iran di Selat Hormuz pada 7 Mei, yang meningkatkan sentimen risk-off dan mendorong aksi jual. Hal ini, ditambah posisi long terleveraged yang sudah menumpuk sebelumnya, memicu reaksi berantai likuidasi begitu harga menembus support utama.

Q2: Seberapa besar likuidasi kali ini dan aset apa yang paling terdampak?

Dalam 24 jam terakhir, total likuidasi pasar mencapai sekitar $345 juta, berdampak pada lebih dari 100.000 trader. Likuidasi long menyumbang hampir 75% dari total, dengan likuidasi long Bitcoin sekitar $84,36 juta dan likuidasi long Ethereum sekitar $93,75 juta.

Q3: Apa arti penurunan 9 poin dalam semalam pada Fear and Greed Index?

Indeks turun dari 47 (netral) ke 38 (ketakutan), menandai penurunan satu hari terbesar dalam sejarah terbaru. Ini menunjukkan sentimen pasar berubah menjadi sangat defensif setelah konflik terjadi.

Q4: Bagaimana kinerja BTC dan ETH berbeda dalam penurunan kali ini?

ETH mengalami penurunan lebih besar dan pelemahan teknikal yang lebih jelas. Data arus modal menunjukkan bahwa di masa ketidakpastian makro, investor cenderung memusatkan alokasi pada BTC, bukan menambah eksposur ke altcoin yang lebih berisiko.

Q5: Apakah konflik geopolitik akan terus mempengaruhi pasar kripto?

Konflik geopolitik akan terus memengaruhi penetapan harga pasar kripto melalui volatilitas harga minyak, perubahan ekspektasi inflasi, dan peningkatan korelasi antar aset berisiko global. Ketika leverage pasar tinggi, efek penguatan dari guncangan eksternal menjadi semakin signifikan.

The content herein does not constitute any offer, solicitation, or recommendation. You should always seek independent professional advice before making any investment decisions. Please note that Gate may restrict or prohibit the use of all or a portion of the Services from Restricted Locations. For more information, please read the User Agreement
Like Konten