
Gambar: https://x.com/solana/status/2011438153199223135
Pada pertengahan Januari 2026, komunitas kripto dengan cepat mengarahkan perhatian pada “perseteruan resmi” antara dua platform blockchain utama. Akun resmi X Solana (sebelumnya Twitter) mengunggah pesan bernada sindiran, secara langsung menyoroti Starknet atas aktivitas on-chain yang sangat rendah meski kapitalisasi pasar melebihi $1 miliar. Unggahan tersebut memanfaatkan kontras tajam untuk menunjukkan bahwa valuasi Starknet sangat dilebih-lebihkan.
Pernyataan ini segera menyebar luas di media sosial dan memicu perdebatan panas antara pendukung Layer 1 dan Layer 2. Lebih dari sekadar perang kata-kata, banyak pelaku pasar menilai insiden ini sebagai bukti persaingan yang makin ketat di ekosistem blockchain publik.
Postingan resmi Solana memaparkan argumen utama sebagai berikut:
Solana memanfaatkan ketimpangan ini untuk mempertanyakan logika dan kewajaran valuasi Starknet saat ini.
Namun, seiring diskusi berkembang, sejumlah pakar industri menegaskan bahwa data tersebut tidak merepresentasikan status on-chain Starknet secara real-time, melainkan diambil dari snapshot lama tahun 2024. Pada saat itu, Starknet mengalami penurunan aktivitas pasca-airdrop, dengan jumlah pengguna dan transaksi turun drastis untuk sementara waktu. Dengan demikian, angka-angka tersebut tidak mencerminkan ekosistem Starknet saat ini. Beberapa komentator pasar pun mengkritik Solana karena memilih data lama secara selektif demi menciptakan konflik dramatis dan meraih keunggulan narasi.
Gambar: https://x.com/Starknet/status/2011456290258907480
Menanggapi ejekan publik dari Solana, akun resmi Starknet tidak langsung membantah data tersebut. Starknet memilih pendekatan yang lebih viral dan santai, mengunggah gambar dengan emoji gorila sambil bercanda, “Siapa yang memberi mereka angka-angka ini?” Tak lama kemudian, CEO StarkWare Eli Ben-Sasson ikut meramaikan diskusi dan dengan nada humor merespons di media sosial:
“Solana mungkin punya 8 intern pemasaran, menjaga kapitalisasi pasar tetap tinggi dengan tweet setiap hari.”
Beberapa pemimpin pemikiran industri juga menyerukan moderasi, menilai bahwa serangan timbal balik terkait data on-chain lebih didorong emosi dan minim manfaat bagi pengembangan ekosistem.
Pertukaran ini menambah unsur hiburan pada diskusi panas, sekaligus memperlihatkan tekanan nyata yang dihadapi proyek blockchain dalam perebutan perhatian publik.
Sekilas objektif, gambaran ekosistem Starknet yang disampaikan Solana sangat berbeda dari kenyataan saat ini.
Menurut platform data on-chain terkemuka seperti DeFiLlama:
Data ini menunjukkan bahwa meski skala dan aktivitas ekosistem Starknet belum menyamai Layer 1 teratas seperti Solana, Starknet jauh dari gambaran “jaringan hantu dengan satu digit pengguna” yang digambarkan.
Di sisi lain, Starknet baru-baru ini memperkuat ekosistemnya di berbagai aspek, antara lain:
Langkah-langkah ini semakin melemahkan tuduhan valuasi “kosong” yang diarahkan kepada Starknet.
Dari perspektif yang lebih luas, insiden ini mengungkap beberapa poin penting:
Di era informasi yang didorong media sosial, data lama atau selektif sangat mudah digunakan untuk membangun narasi emosional. Pelaku pasar perlu memperhatikan asal data, rentang waktu, dan konteks saat menafsirkan metrik on-chain.
Solana dan Starknet merepresentasikan jalur teknis berbeda—Layer 1 berperforma tinggi dan Layer 2 berbasis Ethereum. Ketika pertumbuhan pasar melambat, persaingan bergeser dari sisi teknologi dan pengembangan menuju narasi, perhatian, dan strategi merek.
Insiden kontroversial seperti ini kerap memengaruhi sentimen pasar dan ekspektasi investor dalam jangka pendek. Misalnya, harga dan volume perdagangan STRK mendapat sorotan tinggi selama peristiwa tersebut, walau pada akhirnya tren jangka panjang akan kembali ke fundamental.
Debat publik antara Solana dan Starknet mengenai kapitalisasi pasar dan aktivitas on-chain bukan sekadar perang kata-kata—melainkan contoh klasik permainan informasi dalam persaingan ekosistem kripto.
Di dunia terdesentralisasi, data seharusnya menjadi bahasa paling meyakinkan. Namun, bila data digunakan di luar konteks waktu atau secara selektif, kesimpulannya harus ditinjau ulang dengan cermat. Bagi investor, kemampuan membedakan secara rasional antara fakta, narasi, dan emosi menjadi kunci untuk memahami pasar.





