Institusi baru-baru ini sedang membahas sebuah perubahan menarik——ETH sedang bertransformasi dari sekadar instrumen spekulasi menjadi alat alokasi di neraca perusahaan.
Logika ini sebenarnya cukup sederhana. Misalnya, sebuah institusi menempatkan posisi saat harga ETH sekitar 3000 dolar AS, kemudian mendapatkan sekitar 3% hasil tahunan melalui staking di jaringan. Jika harga naik ke 9000 dolar AS, maka imbal hasil staking 3% ini jika dikonversi ke fiat, sebenarnya mendekati 9% hasil tahunan dalam dolar AS. Terlihat sangat menarik, bukan?
Pertanyaannya adalah, apa arti perubahan ini bagi seluruh pasar kripto?
Dalam logika tradisional, kenaikan dan penurunan aset adalah hal yang biasa—entah untung atau rugi. Tapi staking mengubah permainan ini. ETH bukan hanya tentang volatilitas harga, tetapi juga mampu menghasilkan arus kas di jaringan secara berkelanjutan. Bagi institusi, ini menjadi "aset pertumbuhan tinggi yang bisa menghasilkan bunga sendiri". Dalam konteks inflasi saat ini, ini memang lebih menarik daripada sekadar memegang fiat secara pasif.
Tentu saja, risiko juga harus dipahami. Imbal hasil staking dalam kondisi ekstrem bisa menjadi tidak berarti—jika harga turun 50%, maka imbal hasil tahunan 3% bahkan 9% bisa langsung hilang. Ditambah lagi, upgrade teknologi, perubahan regulasi, dan sikap negara-negara terhadap aset kripto yang berfluktuasi, membuat valuasi jangka panjang tetap penuh ketidakpastian. Strategi ini lebih cocok untuk investor institusi dengan modal besar yang mampu memahami siklus pasar secara jelas, sementara trader jangka pendek sebaiknya tidak terlibat.
Pada akhirnya, jalur yang diambil ETH agak mirip dengan beberapa saham teknologi terkemuka—penilaian saat ini mungkin terlihat tidak murah, tetapi kekuatan penetapan harga sebenarnya terletak pada kemajuan teknologi dan pengembangan ekosistem di masa depan. Mereka yang mampu bersabar dan bertahan akan berpeluang menikmati manfaat dari bunga majemuk.
Ini bukan lomba sprint, melainkan lomba ketahanan. Setelah memahami ini, tidak sulit untuk mengerti mengapa dana besar bersedia memegang jangka panjang dan melakukan staking berulang kali.
Halaman ini mungkin berisi konten pihak ketiga, yang disediakan untuk tujuan informasi saja (bukan pernyataan/jaminan) dan tidak boleh dianggap sebagai dukungan terhadap pandangannya oleh Gate, atau sebagai nasihat keuangan atau profesional. Lihat Penafian untuk detailnya.
Tunggu, mereka juga harus mempertimbangkan skenario di mana hasil staking dipotong secara drastis, hanya menghitung skenario yang baik saja agak terlalu optimis.
Lihat AsliBalas0
LiquidationAlert
· 01-17 08:29
Hasil staking itu sendiri, benar-benar hilang 50% saat jatuh, logika para institusi ini pun sebatas itu saja
Institusi baru-baru ini sedang membahas sebuah perubahan menarik——ETH sedang bertransformasi dari sekadar instrumen spekulasi menjadi alat alokasi di neraca perusahaan.
Logika ini sebenarnya cukup sederhana. Misalnya, sebuah institusi menempatkan posisi saat harga ETH sekitar 3000 dolar AS, kemudian mendapatkan sekitar 3% hasil tahunan melalui staking di jaringan. Jika harga naik ke 9000 dolar AS, maka imbal hasil staking 3% ini jika dikonversi ke fiat, sebenarnya mendekati 9% hasil tahunan dalam dolar AS. Terlihat sangat menarik, bukan?
Pertanyaannya adalah, apa arti perubahan ini bagi seluruh pasar kripto?
Dalam logika tradisional, kenaikan dan penurunan aset adalah hal yang biasa—entah untung atau rugi. Tapi staking mengubah permainan ini. ETH bukan hanya tentang volatilitas harga, tetapi juga mampu menghasilkan arus kas di jaringan secara berkelanjutan. Bagi institusi, ini menjadi "aset pertumbuhan tinggi yang bisa menghasilkan bunga sendiri". Dalam konteks inflasi saat ini, ini memang lebih menarik daripada sekadar memegang fiat secara pasif.
Tentu saja, risiko juga harus dipahami. Imbal hasil staking dalam kondisi ekstrem bisa menjadi tidak berarti—jika harga turun 50%, maka imbal hasil tahunan 3% bahkan 9% bisa langsung hilang. Ditambah lagi, upgrade teknologi, perubahan regulasi, dan sikap negara-negara terhadap aset kripto yang berfluktuasi, membuat valuasi jangka panjang tetap penuh ketidakpastian. Strategi ini lebih cocok untuk investor institusi dengan modal besar yang mampu memahami siklus pasar secara jelas, sementara trader jangka pendek sebaiknya tidak terlibat.
Pada akhirnya, jalur yang diambil ETH agak mirip dengan beberapa saham teknologi terkemuka—penilaian saat ini mungkin terlihat tidak murah, tetapi kekuatan penetapan harga sebenarnya terletak pada kemajuan teknologi dan pengembangan ekosistem di masa depan. Mereka yang mampu bersabar dan bertahan akan berpeluang menikmati manfaat dari bunga majemuk.
Ini bukan lomba sprint, melainkan lomba ketahanan. Setelah memahami ini, tidak sulit untuk mengerti mengapa dana besar bersedia memegang jangka panjang dan melakukan staking berulang kali.