Trump dan Powell semakin memanas dalam konfrontasi terkait kebijakan suku bunga. Pada 13 Januari, Trump kembali secara terbuka mendesak Ketua Federal Reserve Powell untuk melakukan “pemotongan suku bunga yang substansial,” dan memperingatkan bahwa jika tidak diambil tindakan, mungkin “terlambat.” Ini bukan sekadar saran kebijakan biasa, melainkan ultimatum terakhir dengan tekanan yang jelas. Sementara itu, Powell merilis pernyataan video langka pada 11 Januari, secara langsung menyatakan bahwa Departemen Kehakiman mengancam dengan dakwaan pidana, berusaha memaksa Federal Reserve tunduk pada permintaan kebijakan Trump. Peningkatan konfrontasi ini menandai bahwa independensi Federal Reserve sedang menghadapi ujian yang belum pernah terjadi sebelumnya.
Tiga Tahap Peningkatan Konfrontasi
Dari Saran ke Tekanan
Seruan Trump untuk pemotongan suku bunga telah berlangsung selama berbulan-bulan, tetapi pernyataannya pada 13 Januari menunjukkan bahwa tekanan semakin meningkat. Ia tidak hanya memuji tingkat inflasi yang rendah dan pertumbuhan ekonomi yang kuat, tetapi juga “mengaitkan” data ekonomi positif ini dengan kebijakan tarifnya sendiri, mengisyaratkan bahwa Federal Reserve harus menyesuaikan diri dengan kombinasi kebijakan tersebut. Peringatan bahwa “terlambat” menunjukkan bahwa jendela waktu semakin menutup, ini adalah bentuk ancaman terselubung.
Serangan Balik Powell
Respons Powell lebih langsung. Dalam pernyataan videonya, ia menuduh Departemen Kehakiman mengancam dengan dakwaan pidana, berusaha mengintervensi keputusan independen Federal Reserve. Berdasarkan informasi terkait, pada 9 Januari Departemen Kehakiman memang memulai penyelidikan pidana terhadap Powell, secara formal terkait proyek renovasi yang disampaikan ke Kongres. Tetapi Powell dengan tegas menyatakan ini adalah “jebakan politik,” untuk mengintervensi kebijakan moneter. Ini adalah serangan terbuka yang langka dari Ketua Federal Reserve.
“Pembantahan” Trump
Trump kemudian membantah terlibat dalam penyelidikan surat panggilan dari Departemen Kehakiman, tetapi pernyataannya cukup menarik. Ia mengatakan “saya sama sekali tidak tahu menahu,” tetapi sekaligus menyatakan bahwa “surat panggilan Departemen Kehakiman tidak terkait dengan masalah suku bunga”—pembantahan ini justru memperkuat imajinasi tentang kaitan tersebut. Ia juga menambahkan bahwa yang benar-benar harus memberi tekanan pada Powell adalah “fakta bahwa suku bunga terlalu tinggi,” yang secara langsung menunjukkan bahwa dirinya sedang menekan.
Apa arti konfrontasi ini bagi pasar
Ujian terhadap independensi Federal Reserve
Independensi Federal Reserve adalah fondasi dari sistem keuangan modern. Jika Federal Reserve tunduk pada tekanan politik dan bukan pada fundamental ekonomi dalam menetapkan kebijakan, maka kredibilitas dan efektivitas kebijakan tersebut akan sangat terganggu. Saat ini, Powell tetap berpegang pada garis bawah, tetapi berapa lama tekanan politik ini dapat bertahan, masih harus diamati.
Ketidakpastian kebijakan suku bunga
Trump menuntut “pemotongan suku bunga yang substansial,” tetapi keputusan Federal Reserve harus didasarkan pada data. Data CPI AS bulan Desember minggu ini akan menjadi kunci. Jika data CPI mendukung pemotongan suku bunga, Powell mungkin memiliki lebih banyak ruang; jika tidak, tekanan politik akan semakin besar. Ketidakpastian ini menimbulkan tantangan dalam penetapan harga pasar.
Sensitivitas pasar kripto
Pasar kripto sangat sensitif terhadap kebijakan Federal Reserve. Secara historis, ekspektasi penurunan suku bunga biasanya mendorong kenaikan aset berisiko, termasuk mata uang kripto. Tetapi politisasi kebijakan ini dapat meningkatkan volatilitas. Jika pasar meragukan independensi Federal Reserve, bahkan jika pemotongan suku bunga terjadi, efeknya mungkin berkurang.
Momen penting minggu ini
Minggu ini ada beberapa peristiwa penting, di antaranya data CPI bulan Desember AS (13 Januari) menjadi fokus utama. Data ini akan langsung mempengaruhi ekspektasi pasar terhadap langkah selanjutnya Federal Reserve. Jika CPI terus menurun, tekanan Trump akan lebih meyakinkan; jika CPI rebound, Powell akan memiliki alasan lebih kuat untuk menolak pemotongan suku bunga yang substansial.
Selain itu, putusan Mahkamah Agung AS terkait kasus tarif Trump juga patut diperhatikan. Ini menyangkut legalitas kebijakan tarif Trump, dan dia telah mengaitkan perbaikan data ekonomi dengan kebijakan tarif tersebut. Jika kebijakan tarif ditolak, alasan Trump untuk menekan pemotongan suku bunga juga akan berkurang.
Kesimpulan
Konfrontasi antara Trump dan Powell telah meningkat dari isu ekonomi menjadi pertarungan politik, bahkan menyentuh proses peradilan. Ini bukan hanya tentang perbedaan kebijakan suku bunga, tetapi juga ujian terhadap independensi Federal Reserve. Powell saat ini tetap berpegang teguh, tetapi kekuatan dan keberlanjutan tekanan politik masih belum pasti. Bagi pelaku pasar, yang penting adalah memahami logika di balik konfrontasi ini: Trump membutuhkan kebijakan longgar untuk mendukung ekonomi dan harga aset, sementara Powell perlu menjaga independensi dan kredibilitas kebijakan Federal Reserve. Data CPI minggu ini akan menjadi titik balik penting dalam konfrontasi ini, dan patut diikuti dengan cermat.
Halaman ini mungkin berisi konten pihak ketiga, yang disediakan untuk tujuan informasi saja (bukan pernyataan/jaminan) dan tidak boleh dianggap sebagai dukungan terhadap pandangannya oleh Gate, atau sebagai nasihat keuangan atau profesional. Lihat Penafian untuk detailnya.
Ultimatum terakhir Trump dan peningkatan konfrontasi dengan Powell: Independensi Federal Reserve menghadapi ujian, CPI minggu ini menjadi kunci
Trump dan Powell semakin memanas dalam konfrontasi terkait kebijakan suku bunga. Pada 13 Januari, Trump kembali secara terbuka mendesak Ketua Federal Reserve Powell untuk melakukan “pemotongan suku bunga yang substansial,” dan memperingatkan bahwa jika tidak diambil tindakan, mungkin “terlambat.” Ini bukan sekadar saran kebijakan biasa, melainkan ultimatum terakhir dengan tekanan yang jelas. Sementara itu, Powell merilis pernyataan video langka pada 11 Januari, secara langsung menyatakan bahwa Departemen Kehakiman mengancam dengan dakwaan pidana, berusaha memaksa Federal Reserve tunduk pada permintaan kebijakan Trump. Peningkatan konfrontasi ini menandai bahwa independensi Federal Reserve sedang menghadapi ujian yang belum pernah terjadi sebelumnya.
Tiga Tahap Peningkatan Konfrontasi
Dari Saran ke Tekanan
Seruan Trump untuk pemotongan suku bunga telah berlangsung selama berbulan-bulan, tetapi pernyataannya pada 13 Januari menunjukkan bahwa tekanan semakin meningkat. Ia tidak hanya memuji tingkat inflasi yang rendah dan pertumbuhan ekonomi yang kuat, tetapi juga “mengaitkan” data ekonomi positif ini dengan kebijakan tarifnya sendiri, mengisyaratkan bahwa Federal Reserve harus menyesuaikan diri dengan kombinasi kebijakan tersebut. Peringatan bahwa “terlambat” menunjukkan bahwa jendela waktu semakin menutup, ini adalah bentuk ancaman terselubung.
Serangan Balik Powell
Respons Powell lebih langsung. Dalam pernyataan videonya, ia menuduh Departemen Kehakiman mengancam dengan dakwaan pidana, berusaha mengintervensi keputusan independen Federal Reserve. Berdasarkan informasi terkait, pada 9 Januari Departemen Kehakiman memang memulai penyelidikan pidana terhadap Powell, secara formal terkait proyek renovasi yang disampaikan ke Kongres. Tetapi Powell dengan tegas menyatakan ini adalah “jebakan politik,” untuk mengintervensi kebijakan moneter. Ini adalah serangan terbuka yang langka dari Ketua Federal Reserve.
“Pembantahan” Trump
Trump kemudian membantah terlibat dalam penyelidikan surat panggilan dari Departemen Kehakiman, tetapi pernyataannya cukup menarik. Ia mengatakan “saya sama sekali tidak tahu menahu,” tetapi sekaligus menyatakan bahwa “surat panggilan Departemen Kehakiman tidak terkait dengan masalah suku bunga”—pembantahan ini justru memperkuat imajinasi tentang kaitan tersebut. Ia juga menambahkan bahwa yang benar-benar harus memberi tekanan pada Powell adalah “fakta bahwa suku bunga terlalu tinggi,” yang secara langsung menunjukkan bahwa dirinya sedang menekan.
Apa arti konfrontasi ini bagi pasar
Ujian terhadap independensi Federal Reserve
Independensi Federal Reserve adalah fondasi dari sistem keuangan modern. Jika Federal Reserve tunduk pada tekanan politik dan bukan pada fundamental ekonomi dalam menetapkan kebijakan, maka kredibilitas dan efektivitas kebijakan tersebut akan sangat terganggu. Saat ini, Powell tetap berpegang pada garis bawah, tetapi berapa lama tekanan politik ini dapat bertahan, masih harus diamati.
Ketidakpastian kebijakan suku bunga
Trump menuntut “pemotongan suku bunga yang substansial,” tetapi keputusan Federal Reserve harus didasarkan pada data. Data CPI AS bulan Desember minggu ini akan menjadi kunci. Jika data CPI mendukung pemotongan suku bunga, Powell mungkin memiliki lebih banyak ruang; jika tidak, tekanan politik akan semakin besar. Ketidakpastian ini menimbulkan tantangan dalam penetapan harga pasar.
Sensitivitas pasar kripto
Pasar kripto sangat sensitif terhadap kebijakan Federal Reserve. Secara historis, ekspektasi penurunan suku bunga biasanya mendorong kenaikan aset berisiko, termasuk mata uang kripto. Tetapi politisasi kebijakan ini dapat meningkatkan volatilitas. Jika pasar meragukan independensi Federal Reserve, bahkan jika pemotongan suku bunga terjadi, efeknya mungkin berkurang.
Momen penting minggu ini
Minggu ini ada beberapa peristiwa penting, di antaranya data CPI bulan Desember AS (13 Januari) menjadi fokus utama. Data ini akan langsung mempengaruhi ekspektasi pasar terhadap langkah selanjutnya Federal Reserve. Jika CPI terus menurun, tekanan Trump akan lebih meyakinkan; jika CPI rebound, Powell akan memiliki alasan lebih kuat untuk menolak pemotongan suku bunga yang substansial.
Selain itu, putusan Mahkamah Agung AS terkait kasus tarif Trump juga patut diperhatikan. Ini menyangkut legalitas kebijakan tarif Trump, dan dia telah mengaitkan perbaikan data ekonomi dengan kebijakan tarif tersebut. Jika kebijakan tarif ditolak, alasan Trump untuk menekan pemotongan suku bunga juga akan berkurang.
Kesimpulan
Konfrontasi antara Trump dan Powell telah meningkat dari isu ekonomi menjadi pertarungan politik, bahkan menyentuh proses peradilan. Ini bukan hanya tentang perbedaan kebijakan suku bunga, tetapi juga ujian terhadap independensi Federal Reserve. Powell saat ini tetap berpegang teguh, tetapi kekuatan dan keberlanjutan tekanan politik masih belum pasti. Bagi pelaku pasar, yang penting adalah memahami logika di balik konfrontasi ini: Trump membutuhkan kebijakan longgar untuk mendukung ekonomi dan harga aset, sementara Powell perlu menjaga independensi dan kredibilitas kebijakan Federal Reserve. Data CPI minggu ini akan menjadi titik balik penting dalam konfrontasi ini, dan patut diikuti dengan cermat.