Sejak awal tahun 2025, rasio pasokan penambang (Miner Supply Ratio) CryptoQuant terus menurun, menunjukkan jumlah BTC yang dikirim penambang ke Binance semakin berkurang. Meski begitu, harga BTC menunjukkan tren naik terlebih dahulu lalu turun. Ini menunjukkan bahwa meskipun tekanan jual dari penambang berkurang, harga masih berpotensi turun.
Biaya utama yang dihadapi penambang meliputi biaya listrik, perangkat keras, operasional, dan pembiayaan, dengan titik impas yang bervariasi sesuai kondisi pasar. Setelah halving, biaya ini meningkat secara signifikan. Pada 2026, biaya operasional penambang besar yang efisien diperkirakan sekitar 34.000 hingga 43.000 dolar AS, sementara rata-rata industri mencapai 75.000 hingga 87.000 dolar AS, yang berarti sebagian besar penambang saat ini berada di ambang impas, bahkan beroperasi dalam kondisi merugi.
Penambang adalah satu-satunya peserta pasar yang terus menghasilkan pasokan BTC baru. Pengurangan aktivitas jual mereka akan mengurangi tekanan pasokan alami di pasar spot dan berpotensi menyebabkan likuiditas mengencang dalam jangka pendek. Namun, dari grafik terlihat bahwa meskipun rasio pasokan penambang menurun, harga tetap terus menurun. Ini dengan jelas menunjukkan bahwa tekanan jual saat ini bukan berasal dari penambang, melainkan didorong oleh investor spot, aliran dana ETF, paus besar, dan faktor risiko makro yang lebih luas.