10 Maret, menurut laporan, sejak pecahnya perang Iran, harga Bitcoin (BTC) terus rebound, sementara pasar properti Dubai mengalami penurunan besar. Indeks properti Dubai Financial Market (DFM) ditutup pada 13.353 poin pada hari Senin, turun 18,1% dari 16.306 poin pada 27 Februari, hampir menghapus seluruh kenaikan sejak awal tahun. Sebaliknya, Bitcoin yang semula berada di $65.492 saat perang pecah, sempat turun ke $63.000, lalu cepat rebound ke $69.000, dengan kenaikan sekitar 5,4%.
Guncangan ini disebabkan oleh Iran yang menembakkan rudal ke bandara Dubai, hotel mewah, dan area sipil, yang menyebabkan regulator UEA menutup bursa saham selama dua hari untuk mencegah kepanikan jual. Penurunan pasar properti Dubai juga dipicu oleh tekanan dari keluar masuknya modal asing, permintaan pesawat pribadi meningkat setidaknya 300%, dan banyak investor berpenghasilan tinggi meninggalkan kawasan tersebut dengan cepat. Harga saham Emaar Properties turun dari 17 dirham menjadi 13,30 dirham, turun 22%, dan Aldar Properties turun 5% pada hari pasar dibuka kembali.
Meskipun Dubai lama dikenal ramah terhadap cryptocurrency dan banyak perusahaan crypto lokal membuka kantor di sana, perang meningkatkan risiko di kawasan tersebut, yang menyebabkan stabilitas pasar properti terganggu serius. Data pasar sekunder menunjukkan bahwa beberapa harga properti turun lebih dari 10%, dengan rata-rata penurunan sekitar 4,9%.
Para analis menyebutkan bahwa penurunan harga properti di Dubai juga terkait dengan ekspektasi peningkatan pasokan di masa depan. Fitch sebelumnya memperingatkan bahwa masalah pasokan saja bisa menyebabkan penurunan harga hingga 15%, dan diperkirakan akan terjadi lonjakan besar dalam pembangunan apartemen baru pada paruh kedua 2026, sementara permintaan sedang menurun dengan cepat. Sebaliknya, meskipun volatilitas tinggi, Bitcoin tetap menjadi aset yang diminati karena likuiditasnya yang kuat dan karakter safe haven global, terutama dalam konteks perang.
Secara keseluruhan, perang Iran tidak hanya membentuk ulang pola risiko regional, tetapi juga berdampak mendalam pada alokasi aset global. Peristiwa berisiko tinggi ini mendorong pasar cryptocurrency tetap aktif, sementara pasar properti Dubai yang bergantung pada modal asing mengalami tekanan besar, menyoroti dampak berbeda dari perang terhadap aset tradisional dan digital.