
"Kuisancle" merupakan istilah slang di komunitas trader kripto yang digunakan untuk menggambarkan kondisi mengalami kerugian besar. Istilah ini dapat merujuk pada kerugian belum terealisasi (kerugian di atas kertas) atas aset yang belum dijual, maupun kerugian yang sudah terealisasi setelah posisi ditutup. Walaupun bukan istilah teknis, istilah ini sangat populer di kalangan trader sebagai ungkapan pengalaman kerugian berat.
Di media sosial, "kuisancle" biasanya digunakan untuk menggambarkan situasi yang sedang dihadapi trader atau hasil evaluasi suatu transaksi. Makna istilah ini sangat bergantung pada konteks trading: dalam spot trading, umumnya mengacu pada harga aset yang anjlok jauh di bawah harga beli sehingga menimbulkan kerugian belum terealisasi; pada trading leverage atau derivatif, bisa berarti terkena likuidasi atau saldo margin turun drastis (margin).
Volatilitas aset kripto yang sangat tinggi, pasar yang beroperasi 24 jam tanpa henti, serta penggunaan leverage secara luas membuat frekuensi dan besaran kerugian di trading kripto meningkat tajam. Hal inilah yang menyebabkan istilah "kuisancle" sangat sering muncul dalam diskusi komunitas.
Pasar kripto berjalan non-stop tanpa waktu buka atau tutup, sehingga setiap berita baru langsung tercermin pada harga. Trader pemula yang mudah terpengaruh emosi dan banjir informasi kerap mengejar kenaikan harga atau panik menjual, sehingga lebih rentan mengalami kerugian besar dalam waktu singkat—dan akhirnya sering mengaku sudah "kuisancle".
Dalam spot trading, "kuisancle" umumnya berarti membeli aset yang harganya kemudian turun tajam di bawah harga beli, sehingga menimbulkan kerugian belum terealisasi yang besar atau kerugian terealisasi jika dijual di harga lebih rendah.
Spot trading adalah transaksi jual beli token secara langsung tanpa leverage atau pinjaman. Kerugian belum terealisasi ("paper loss") terjadi saat nilai turun sebelum dijual; setelah Anda melakukan stop-loss atau menjual di harga lebih rendah, kerugian menjadi terealisasi. Contoh: Anda membeli koin di Gate pada harga 100 unit, lalu harganya turun menjadi 80 unit—selama belum dijual, Anda mengalami kerugian belum terealisasi 20%; jika Anda keluar di 85 unit, Anda merealisasikan kerugian 15%.
Pada trading leverage, "kuisancle" kerap berarti kerugian diperbesar oleh leverage dan bahkan dapat memicu likuidasi paksa. Likuidasi terjadi saat platform otomatis menutup posisi Anda demi membatasi risiko ketika kerugian mencapai ambang batas keamanan.
Leverage memungkinkan Anda mengendalikan posisi lebih besar dengan margin lebih kecil. Misalnya, leverage 10x berarti penurunan harga 10% bisa langsung mendekatkan posisi Anda ke level likuidasi. Pada isolated margin, risiko hanya pada satu posisi; pada cross margin, semua posisi berbagi dana dan risiko bisa menular. Banyak trader mengaku "kuisancle" di kontrak akibat leverage berlebihan atau tanpa stop-loss pelindung.
"Kuisancle" bersifat subjektif dan menekankan bahwa kerugian yang dialami sangat besar atau menyakitkan. Drawdown adalah ukuran objektif yang menunjukkan persentase penurunan dari nilai puncak akun atau posisi ke nilai saat ini. Kerugian belum terealisasi merujuk pada kerugian di atas kertas saat aset belum dijual.
Contoh: Portofolio Anda naik dari $10.000 menjadi $12.000 lalu turun lagi ke $10.000, berarti terjadi drawdown sekitar 16,7%. Jika belum dijual, kerugian belum terealisasi Anda nol, tetapi drawdown tetap ada. Setelah dijual di bawah $10.000, itu menjadi kerugian terealisasi. Biasanya istilah "kuisancle" digunakan ketika drawdown atau kerugian belum terealisasi sangat besar.
Penyebab utamanya antara lain: posisi terlalu terpusat, tidak memasang stop-loss, penggunaan leverage tinggi di pasar volatil, mengejar hype pasar tanpa analisis, mengabaikan risiko likuiditas dan proyek, serta rencana trading yang kurang matang.
Dari sisi perilaku, keputusan emosional dan ketimpangan informasi dapat menyebabkan beli di harga tinggi dan jual di harga rendah. Secara mekanis, leverage, likuidasi paksa, dan likuiditas rendah bisa memperbesar dampak fluktuasi harga pada akun—mengubah kerugian biasa menjadi "kuisancle".
Pertama: Susun rencana trading lengkap dengan aturan entry/exit dan asumsi risiko. Perencanaan membuat setiap keputusan dapat dievaluasi dan mengurangi reaksi emosional.
Kedua: Atur ukuran posisi secara bijak. Jangan terlalu fokus pada satu aset; diversifikasi dapat mengurangi risiko kegagalan tunggal.
Ketiga: Pasang stop-loss dan take-profit. Stop-loss otomatis keluar dari posisi rugi agar kerugian terkendali; take-profit mengunci keuntungan saat target tercapai.
Keempat: Gunakan leverage secara hati-hati. Turunkan kelipatan leverage, pahami harga likuidasi dan aturan margin call, serta hindari menambah posisi saat volatilitas tinggi.
Kelima: Lakukan evaluasi rutin. Catat alasan, eksekusi, dan hasil transaksi; tinjau kepatuhan terhadap aturan secara berkala dan sesuaikan strategi bila perlu.
Di Gate, Anda dapat memasang limit stop-loss atau order OCO (One Cancels the Other) di panel order untuk mengelola stop-loss dan take-profit sekaligus; manfaatkan price alert untuk memantau level penting agar tidak melewatkan sinyal manajemen risiko.
Pertama: Segera potong kerugian. Evaluasi apakah asumsi risiko Anda sudah dilanggar; jika ya, jalankan stop-loss yang telah direncanakan atau kurangi eksposur agar kesalahan jangka pendek tidak menjadi beban jangka panjang.
Kedua: Identifikasi jenis kerugian. Bedakan antara kerugian belum terealisasi dan terealisasi; untuk trading leverage, periksa apakah posisi Anda mendekati likuidasi dan sesuaikan margin atau tutup posisi jika perlu.
Ketiga: Optimalkan secara teknis. Gunakan panel posisi di Gate untuk memantau portofolio dan status margin; pasang stop-loss pelindung. Untuk aset spot, order OCO dapat menggabungkan stop-loss dan take-profit pada level kunci. Aktifkan price alert agar tidak melewatkan pembalikan harga besar.
Keempat: Evaluasi dan perbaiki. Analisis keputusan yang menyebabkan kerugian; kurangi leverage atau batasi risiko per transaksi; tetapkan parameter lebih konservatif untuk trading berikutnya.
Trading selalu mengandung risiko—setiap keputusan berpotensi menimbulkan kerugian. Prioritaskan stabilitas akun jangka panjang dibanding mengejar pemulihan cepat.
"Kuisancle" adalah istilah slang trader untuk pengalaman kerugian besar. Maknanya bergantung pada konteks: di spot trading, biasanya merujuk pada kerugian belum terealisasi atau terealisasi; di kontrak leverage, umumnya melibatkan kerugian yang diperbesar dan likuidasi paksa. Agar pelajaran ini menjadi manajemen risiko nyata, fokuslah pada perencanaan, disiplin ukuran posisi dan stop-loss, serta langkah konkret di platform pilihan Anda. Memahami konteks, membedakan drawdown dan kerugian, serta memprioritaskan manajemen risiko adalah kunci menghindari "kuisancle" dalam jangka panjang.
Ungkapan ini adalah pengingat psikologis agar tidak terbuai oleh keuntungan jangka pendek yang tampak. Dalam trading, hal yang tampak murah (misalnya mengejar harga tinggi atau leverage berlebihan) sering kali menyimpan risiko yang akhirnya berujung kerugian besar ("kuisancle"). Keuntungan sejati berasal dari perlindungan modal secara konsisten dalam jangka panjang—bukan mengejar profit sesaat.
Tidak. Likuidasi adalah kondisi ekstrem di trading kontrak ketika margin tidak cukup sehingga posisi terpaksa ditutup—menghabiskan seluruh saldo akun. "Kuisancle" cakupannya lebih luas: selain likuidasi, istilah ini juga meliputi penurunan besar di pasar spot atau erosi modal yang signifikan. Singkatnya, likuidasi merupakan bentuk ekstrem dari "kuisancle".
Kesalahan pemula yang sering terjadi: mengejar tren di harga tinggi tanpa analisis, tidak memasang stop-loss (membiarkan kerugian kecil membesar), menggunakan leverage berlebihan untuk memperbesar risiko, serta membeli/menjual secara emosional saat volatilitas pasar tinggi. Pemula disarankan menggunakan akun demo di platform seperti Gate, memasang stop-loss secara rasional, dan memulai dengan nominal kecil untuk membangun pengalaman.
Bisa—selama modal Anda masih ada. Pertama, rehat sejenak dan refleksikan penyebab kerugian, jangan buru-buru kembali trading. Setelah itu, perbaiki strategi dengan menurunkan toleransi risiko dan bangun kembali kepercayaan diri lewat keuntungan kecil yang konsisten. Yang terpenting: terima kerugian dan ambil pelajaran—itu jauh lebih efektif melindungi modal sisa daripada mengejar pemulihan secara agresif.
Sebelum setiap transaksi, tanyakan tiga hal: 1) Berapa kerugian maksimal yang bisa saya terima (pasang stop-loss)? 2) Seberapa besar dampaknya terhadap total modal saya (atur ukuran posisi)? 3) Apakah saya siap secara mental menerima risiko ini? Membiasakan prosedur ini di Gate sebelum trading dapat secara signifikan mengurangi kemungkinan "kuisancle".


