
Saham yang mengalami tren turun berarti harga saham tersebut melemah dibandingkan tren sebelumnya, ditandai dengan level tertinggi dan terendah yang terus menurun. Pola ini dapat terjadi pada saham individu maupun tercermin dalam penurunan indeks sektor secara keseluruhan.
Untuk menilai apakah suatu saham “melemah”, analis biasanya melihat dua aspek utama: struktur harga dan volume perdagangan. Struktur harga menunjukkan tren turun ketika baik titik terendah maupun tertinggi bergerak semakin rendah. Volume perdagangan, yang menunjukkan jumlah saham yang diperdagangkan, juga sangat penting; kenaikan volume saat harga turun biasanya menandakan tekanan jual yang lebih kuat. Garis tren yang menghubungkan beberapa titik tertinggi atau terendah memperlihatkan arah pasar secara visual; penembusan di bawah garis tren sering menjadi sinyal momentum bearish yang menguat.
Secara praktik, rebound satu hari tidak serta-merta mengubah tren utama. Jika rebound gagal menembus garis tren utama atau tertahan oleh moving average di atasnya, saham tetap dianggap berada dalam tren turun.
Tiga faktor utama yang sering menyebabkan penurunan berkelanjutan pada saham tren turun adalah fundamental, likuiditas, dan sentimen pasar. Satu faktor bisa memicu penurunan, namun tren turun yang lama biasanya akibat kombinasi beberapa faktor sekaligus.
Fundamental berkaitan dengan kondisi bisnis dan kesehatan keuangan perusahaan. Contohnya, penurunan pendapatan atau laba, keterlambatan pengembangan produk baru, atau regulasi yang lebih ketat dapat menurunkan ekspektasi pasar.
Likuiditas mengacu pada ketersediaan dan aktivitas modal di dalam maupun di luar pasar. Pengurangan kepemilikan oleh pemegang saham besar, penyesuaian portofolio institusi, atau penarikan dana pasif dapat menekan minat beli.
Sentimen pasar mencerminkan reaksi psikologis pelaku pasar terhadap berita dan risiko. Berita negatif yang mendadak, rumor yang beredar, atau meningkatnya aversi risiko dapat memperkuat volatilitas. Di pasar yang sudah matang, volatilitas biasanya tetap moderat kecuali ada peristiwa besar, namun fluktuasi dapat meningkat selama musim laporan keuangan atau perubahan kebijakan.
Pemeriksaan tiga langkah berikut dapat membantu Anda mengidentifikasi penyebab utama dan menentukan langkah selanjutnya:
Langkah 1: Periksa sumber informasi. Tinjau pengumuman perusahaan dan laporan keuangan—disclosure berkala data bisnis. Jika margin laba kotor atau arus kas menurun signifikan, kemungkinan besar masalah fundamental.
Langkah 2: Analisis pola harga dan volume. Hubungan antara volume dan harga sangat penting. Jika penjualan masif terjadi setelah berita negatif dengan volume tinggi dan rebound lemah, itu menandakan tekanan jual berkelanjutan. Jika berita kecil memicu pergerakan harga besar, sentimen pasar kemungkinan menjadi penyebab utama.
Langkah 3: Bandingkan dengan emiten sejenis dan indeks. Sektor adalah kelompok perusahaan dengan karakteristik serupa. Jika sektor dan pasar secara keseluruhan juga turun bersamaan, kemungkinan penyebabnya adalah faktor industri atau makroekonomi. Jika hanya satu saham yang turun, biasanya penyebabnya spesifik pada perusahaan tersebut.
Jika sentimen pasar yang mendorong pergerakan dan fundamental tetap stabil, Anda bisa menunggu hingga emosi pasar mereda sebelum mengambil keputusan. Namun jika fundamental memburuk, manajemen risiko harus menjadi prioritas utama.
Kombinasikan analisis struktur harga dengan beberapa indikator umum agar tidak terjadi overload sinyal:
Moving Average: Moving average meratakan fluktuasi harga dengan rata-rata harga dalam periode tertentu. Biasanya, moving average jangka pendek (misal, 5 hari) dibandingkan dengan jangka menengah (misal, 20 hari). Jika rata-rata jangka pendek berada di bawah jangka menengah dan menahan rebound, tren masih bearish.
Support dan Resistance: Support adalah rentang harga dengan minat beli kuat secara historis; resistance adalah area dengan tekanan jual tinggi. Penembusan di bawah support penting tanpa pemulihan cepat biasanya menandakan potensi penurunan lanjutan.
RSI (Relative Strength Index): RSI mengukur kekuatan pergerakan naik dan turun. Nilai RSI rendah menandakan kelemahan jangka pendek, namun tidak menjamin pembalikan—RSI sebaiknya digunakan bersama volume dan level harga kunci.
Tips: Fokus pada dua atau tiga sinyal utama dalam satu waktu, utamakan struktur harga daripada indikator; jangan pernah mengambil keputusan trading hanya berdasarkan satu indikator.
Stop-loss adalah harga keluar yang sudah ditentukan untuk membatasi kerugian pada setiap transaksi. Ukuran posisi adalah seberapa besar modal yang dialokasikan pada satu aset. Keduanya menentukan apakah Anda bisa menjaga modal dan peluang di masa depan selama tren turun.
Langkah 1: Tentukan anggaran risiko—misal, batasi kerugian maksimum per transaksi sebesar 1–2% dari total modal, utamakan keberlangsungan akun di atas segalanya.
Langkah 2: Tentukan level stop-loss. Tempatkan sedikit di bawah zona support utama atau di mana logika entry Anda sudah tidak berlaku. Contoh, jika Anda trading berdasarkan moving average 20 hari dan harga penutupan turun di bawahnya dengan volume naik, eksekusi stop-loss Anda.
Langkah 3: Sesuaikan ukuran posisi. Hitung agar “selisih harga × ukuran posisi ≤ anggaran risiko.” Ini mencegah posisi terlalu besar saat stop-loss jauh dari entry point Anda.
Poin Penting: Disiplin pada rencana. Gunakan limit order atau stop order untuk menghindari trading emosional, dan catat setiap eksekusi untuk evaluasi dan perbaikan selanjutnya.
Keputusan membeli saat harga turun sangat tergantung pada karakter penurunan dan rencana alokasi modal Anda. Jangan menganggap rebound sebagai pembalikan tren sebelum ada konfirmasi yang jelas.
Jika penurunan hanya koreksi sementara dan fundamental tetap baik, pertimbangkan average-in secara bertahap. Average-in berarti membagi modal yang direncanakan menjadi beberapa bagian untuk membeli di harga berbeda—cara ini mengurangi risiko entry yang tidak tepat waktu.
Jika Anda ragu soal timing, dollar-cost averaging bisa dipertimbangkan—strategi investasi berkala dengan jumlah tetap—cocok jika Anda optimis jangka panjang namun ragu menghadapi volatilitas jangka pendek.
Jangan average down berulang kali pada tren turun yang berkelanjutan. Tanpa bukti kuat bahwa penurunan mulai melambat, menurunkan harga rata-rata tanpa pertimbangan justru memperbesar risiko.
Keduanya dipengaruhi sentimen dan likuiditas, namun mekanisme pasar berbeda—strategi harus disesuaikan dengan karakteristik masing-masing.
Jam Perdagangan: Saham diperdagangkan pada jam tertentu dan memiliki circuit breaker; crypto asset diperdagangkan 24/7 tanpa jeda, sehingga risiko volatilitas malam dan akhir pekan lebih tinggi.
Disclosure Informasi: Saham memiliki laporan keuangan dan pengumuman resmi berkala; crypto asset tidak memiliki laporan tradisional dan lebih mengandalkan on-chain data—informasi blockchain publik yang menunjukkan transaksi dan kepemilikan, berguna untuk memantau aliran dana dan aktivitas.
Volatilitas & Leverage: Crypto asset umumnya lebih volatil dengan akses leverage dan derivatives yang lebih mudah. Dalam tren turun serupa, posisi dan stop-loss crypto perlu dikelola lebih konservatif.
Kedua kelas aset memerlukan disiplin dalam mengikuti tren, manajemen ukuran posisi, dan pencatatan detail untuk evaluasi; perbedaan utama ada pada sumber data dan kecepatan risiko terwujud.
Anda tidak dapat memperdagangkan saham langsung di Gate, namun jika memiliki crypto token atau sector index token terkait tema saham di pasar crypto—dan menghadapi tren turun serupa—Anda bisa memanfaatkan alat hedging di Gate.
Langkah 1: Nilai eksposur risiko—potensi perubahan modal akibat fluktuasi harga. Hitung nilai posisi saat ini dan rentang volatilitas terkini untuk menentukan porsi yang ingin dihedging.
Langkah 2: Pilih alat hedging. ETF melacak aset atau indeks tertentu; platform umumnya menyediakan ETF long dan inverse. Futures (termasuk perpetual contract) adalah perjanjian beli/jual di waktu mendatang—memungkinkan posisi short untuk mengimbangi risiko pasar spot saat tren turun.
Langkah 3: Hitung hedge ratio. Tujuannya, gunakan jumlah ETF inverse atau posisi short yang sesuai untuk mengimbangi sebagian kerugian dari penurunan. Misal, ingin menghedging 50% risiko penurunan, alokasikan ETF inverse atau posisi short setara 50% nilai posisi spot Anda.
Langkah 4: Eksekusi order dan kelola risiko. Gunakan limit order untuk mengendalikan slippage, tetapkan stop-loss/take-profit, pantau funding rate kontrak dan leverage—hindari leverage berlebihan yang memperbesar risiko.
Catatan Risiko: Hedging memangkas volatilitas tetapi ada biaya seperti management fee, funding rate, dan tracking error. Jangan berlebihan melakukan hedging—jika tidak, hedging berubah menjadi spekulasi.
Kesalahan umum meliputi salah membaca tren atau eksekusi yang buruk; risiko utama berasal dari leverage dan masalah likuiditas.
Salah mengira rebound sebagai pembalikan tren: Menambah posisi sebelum menembus garis tren atau resistance utama dapat menyebabkan kerugian saat terjadi penurunan lanjutan.
Average down tanpa rencana: Membeli lagi tanpa anggaran risiko memperbesar eksposur pada satu saham secara signifikan.
Hanya fokus pada grafik: Mengabaikan pengumuman, data sektor, atau perubahan kebijakan membuat analisis menjadi satu dimensi.
Melupakan likuiditas: Likuiditas menentukan seberapa cepat transaksi bisa dieksekusi—saham dengan likuiditas tipis dapat menyebabkan slippage besar saat stop-loss.
Pemakaian leverage berlebihan: Leverage memperbesar keuntungan dan kerugian—sangat berbahaya di periode volatilitas tinggi; selalu pasangkan trading leverage dengan stop-loss ketat.
Saat menghadapi saham tren turun, mulai dengan analisis berita dan pemeriksaan harga-volume untuk penilaian kualitatif; konfirmasi temuan dengan indikator utama. Jika bukti kurang kuat, lebih baik kurangi ukuran posisi daripada mengambil risiko berdasarkan intuisi. Tentukan anggaran risiko secara jelas dan gunakan stop-loss untuk membatasi kerugian per transaksi. Jika hanya koreksi sementara, lakukan akumulasi bertahap atau dollar-cost averaging—jangan mencoba “menangkap dasar” sekaligus. Pada pasar crypto dengan tren turun serupa, pertimbangkan hedging dengan ETF inverse atau perpetual contract di Gate—namun ingat, hedging membawa biaya dan tidak selalu sempurna. Intinya, tujuan Anda bukan memprediksi semua rebound, melainkan berpartisipasi pada peluang dengan probabilitas lebih tinggi sambil tetap mengendalikan risiko.
Saat harga saham turun, uang di akun Anda sebenarnya tidak hilang—hanya nilai kepemilikan Anda yang berkurang. Misalnya, jika Anda membeli saham senilai $1.000 dan nilainya turun menjadi $800, kerugian $200 itu masih berupa kerugian di atas kertas (unrealized); baru menjadi nyata jika Anda menjual. Uang tersebut berpindah ke pihak yang menjual saham di harga lebih tinggi—mereka keluar baik untuk mengambil untung atau memotong kerugian.
Penurunan harga saham biasanya disebabkan dua faktor utama: faktor fundamental (seperti kinerja perusahaan memburuk, sektor menurun, atau pengetatan regulasi) dan faktor sentimen (seperti kepanikan pasar, arus modal keluar, atau breakdown teknikal). Kadang satu berita buruk saja bisa memicu penurunan tajam; kadang tidak ada alasan jelas namun harga tetap turun—dalam situasi seperti ini, penting membedakan perubahan tren jangka panjang dan fluktuasi jangka pendek.
Penurunan dengan volume rendah berarti harga turun sementara volume perdagangan tetap rendah—ini biasanya menandakan partisipasi pasar terbatas atau belum ada konsensus jual. Bisa jadi pemegang saham enggan menjual sehingga harga turun perlahan, atau tekanan jual lemah sehingga rebound bisa terjadi kapan saja. Dibanding penurunan volume besar, penurunan volume rendah sering kali menunjukkan sinyal bottoming yang lebih khas.
Secara teori tidak ada batas penurunan harian saham AS—namun ada mekanisme circuit breaker: jika S&P 500 turun 7%, perdagangan dihentikan 15 menit (Level 1); turun 13%, dihentikan lagi (Level 2); turun 20%, perdagangan dihentikan hingga akhir hari (Level 3). Penurunan satu hari terbesar terjadi pada Black Monday 1987 (turun 22%), sementara kasus ekstrem terbaru seperti crash COVID-19 tahun 2020 mencapai penurunan harian hingga 10%.
Hal ini tergantung pada penyebab penurunan dan toleransi risiko Anda. Jika fundamental memburuk (misal, fraud akuntansi atau bisnis inti menyusut), sebaiknya segera cut loss. Jika penurunan hanya karena sentimen jangka pendek namun fundamental tetap solid, pertimbangkan bertahan atau average down secara hati-hati. Yang terpenting, tetapkan stop-loss sebelumnya (misal, penurunan 10–15%), disiplin pada rencana, dan hindari keputusan emosional.


