Harga Perak Tembus Rekor Tertinggi $83—Apakah Pergeseran Sistem Moneter Sedang Menghampiri?

Diperbarui: 12/30/2025 10:23

Pasar perak tengah mengalami gejolak yang belum pernah terjadi sebelumnya. Pada 28 Desember, harga spot perak melonjak menembus US$83 per ons, mencatatkan kenaikan lebih dari 175% sejak awal tahun. Namun, hanya dua hari kemudian, pada 30 Desember, pasar mengalami pembalikan dramatis—harga perak anjlok hampir 10% dalam satu hari, turun kembali ke kisaran US$70 per ons. Penurunan tajam ini merupakan kejatuhan harian terbesar sejak 2021.

Analis perak ternama, Peter Krause, meyakini bahwa pasar telah membentuk lantai baru di US$50 per ons sejak Oktober lalu, namun reli bullish sejati untuk perak mungkin masih ada di depan. Berdasarkan model yang ia gunakan, dengan mempertimbangkan harga emas saat ini dan rasio emas-perak yang telah dikalibrasi ulang, perak berpotensi menantang rekor tertingginya di US$300 per ons dalam jangka panjang.

Lonjakan dan Koreksi Harga Perak

Menjelang akhir tahun, pasar perak menunjukkan performa bak rollercoaster. Pada 28 Desember, harga spot perak naik lebih dari 5%, menembus level US$83 per ons dan mencetak rekor tertinggi sepanjang masa. Pencapaian ini menutup reli luar biasa perak sepanjang 2025, dengan harga naik lebih dari 175% dari level pembukaan tahun yang hampir US$29,50 per ons.

Namun, rekor tersebut tidak bertahan lama. Pasar berbalik arah secara drastis pada hari Senin, dengan harga perak mengalami koreksi signifikan. Berdasarkan data terbaru, harga spot perak mundur dari puncaknya, jatuh hampir 10% dalam satu hari ke kisaran US$70 per ons. Koreksi tajam ini menjadi penurunan harian terbesar untuk perak sejak 2021.

Emas juga mengikuti pola serupa. Setelah menyentuh rekor tertinggi US$4.543,51 per ons pada awal perdagangan, harga emas turun lebih dari 4,5% di tengah koreksi luas di pasar logam mulia.

Ketidakseimbangan Pasokan-Permintaan dan Euforia Pasar

Performa luar biasa perak didorong oleh perubahan struktural yang mendalam. Peter Krause menyoroti bahwa pendorong utama pasar perak adalah penyesuaian harga atas defisit struktural jangka panjang. Berdasarkan analisanya, akumulasi defisit perak selama lima tahun terakhir (termasuk tahun ini) mencapai sekitar 800 juta ons—hampir setara dengan total produksi tambang global selama satu tahun. Silver Institute memproyeksikan defisit ini akan terus berlanjut dalam lima tahun ke depan. Salah satu indikasi jelas dari pengetatan pasokan adalah menipisnya stok di bursa utama. Krause mencatat bahwa sejak 2024, stok di bursa-bursa utama seperti London, New York, dan Shanghai sudah turun tajam. Kini, dengan stok bursa yang hampir habis, pasar terpaksa menghadapi kekurangan pasokan yang serius.

Perubahan di sisi permintaan juga sangat signifikan. Produsen panel surya kini menjadi penyumbang utama permintaan perak industri, dan teknologi baru yang lebih efisien diperkirakan akan mendorong konsumsi lebih tinggi lagi. Selain itu, permintaan investasi jauh melampaui ekspektasi. Menurut Silver Institute, exchange-traded fund bertema perak diperkirakan akan menyerap hampir 200 juta ons permintaan investasi di 2025—jauh di atas proyeksi sebelumnya sebesar 70 juta ons.

Pandangan Pasar yang Berbeda dan Prospek ke Depan

Arah pasar perak ke depan memicu perdebatan sengit di kalangan analis. Para optimis seperti Peter Krause berpendapat bahwa perak memasuki "fase euforia", dengan rasio emas-perak berpotensi anjlok dari level saat ini sekitar 68 ke angka serendah 15. Berdasarkan skenario ini dan harga emas sekitar US$4.500 per ons, perak bisa membidik US$300 per ons.

Ramnivas Mundada, Kepala Riset Ekonomi dan Korporasi di GlobalData, menawarkan perspektif makro, memproyeksikan bahwa harga emas bisa naik lagi 8%-15% pada 2026, sementara perak berpotensi naik 20%-35%. Ia meyakini penguatan logam mulia ini bukan sekadar aksi "flight-to-safety" klasik, melainkan respons sistemik institusi terhadap risiko geopolitik, perlambatan ekonomi AS, dan tren de-dolarisasi.

Tidak semua institusi sependapat dengan pandangan bullish ini. TD Securities mengambil posisi lebih hati-hati, berargumen bahwa pasar perak London telah kembali menambah stok yang hilang selama setahun terakhir, dan memprediksi harga perak bisa turun ke kisaran US$40 per ons dalam satu tahun ke depan. Proyeksi BMO relatif moderat, memperkirakan rata-rata harga perak sebesar US$56,30 per ons pada 2026.

Pelajaran dari Divergensi di Pasar Kripto

Menjelang akhir 2025, pasar keuangan menunjukkan divergensi yang jarang terjadi. Sejak mencetak rekor tertinggi pada Oktober, Bitcoin dan kelas aset kripto secara umum mengalami koreksi signifikan, dengan harga Bitcoin kini berada di kisaran US$90.000 per koin. Sementara itu, emas, perak, dan saham AS justru melesat hingga akhir tahun, menciptakan perbedaan performa pasar yang jelas. Divergensi ini mengindikasikan adanya pergeseran struktural. Menurut Mundada dari GlobalData, reli logam mulia di 2025 menandakan perubahan struktural mendalam dalam sistem moneter internasional—pasar global mulai bergerak menjauhi kerangka yang berpusat pada dolar menuju tatanan multipolar.

Investor kripto Robert Kiyosaki menunjukkan minat besar pada perak. Ia memprediksi harga perak bisa naik tiga kali lipat dari level saat ini pada akhir 2025, menyebut perak sebagai "barang paling murah saat ini." Kiyosaki menekankan pentingnya memegang perak fisik dibandingkan berinvestasi di ETF perak, sejalan dengan skeptisisme lamanya terhadap aset kertas dan mata uang fiat.

Strategi Investasi di Tengah Volatilitas Pasar

Di tengah volatilitas ekstrem pasar perak, investor perlu mengadopsi strategi yang lebih bijak. Peter Krause menekankan bahwa meski perak berada dalam posisi yang sangat menguntungkan, bukan berarti pasar kebal terhadap koreksi. Ia mengakui, "Saya tidak akan terkejut jika terjadi koreksi kecil dalam waktu dekat." Namun, ia tetap yakin bahwa faktor-faktor utama yang menopang reli perak akan bertahan cukup lama.

Investor Robert Kiyosaki mendorong investor untuk fokus pada perak fisik dan menghindari ETF, dengan alasan kekhawatiran terhadap aset kertas dan uang fiat. Pendekatan ini sejalan dengan pandangannya sebelumnya mengenai penyimpanan Bitcoin di dompet dingin ketimbang melalui spot ETF. Preferensi terhadap aset fisik ini kontras dengan tren investasi campuran saat ini yang melibatkan mata uang digital dan logam mulia tradisional.

Di bursa aset digital seperti Gate, investor dapat mengakses beragam kelas aset. Gate mendukung lebih dari 4.100 cryptocurrency, menawarkan pilihan investasi yang luas bagi pengguna. Platform ini mengenakan biaya trading spot tetap sebesar 0,1% dan menyediakan fitur keamanan seperti otentikasi dua faktor serta penyimpanan dingin, sehingga investor memiliki alat untuk mengelola risiko di pasar yang volatil.

Periode divergensi pasar sering menjadi waktu yang tepat untuk meninjau kembali alokasi aset. Ramnivas Mundada mencatat bahwa putaran kenaikan logam mulia kali ini "bukan sekadar aksi flight-to-safety biasa, melainkan lebih merupakan respons sistemik institusi terhadap risiko geopolitik, perlambatan ekonomi AS, ketegangan perdagangan, dan tren de-dolarisasi."

Harga perak memang cepat terkoreksi setelah menembus rekor tertinggi, namun banyak analis tetap optimis terhadap prospek jangka panjangnya. Target US$300 milik Peter Krause sejalan dengan proyeksi GlobalData atas kenaikan perak 20%-35% hingga 2026. Sementara euforia perak melanda pasar, sektor kripto tengah memasuki masa penyesuaian. Divergensi ini bisa menjadi sinyal bahwa modal global tengah membangun "respons sistemik" yang lebih dalam terhadap risiko geopolitik dan perlambatan ekonomi AS.

The content herein does not constitute any offer, solicitation, or recommendation. You should always seek independent professional advice before making any investment decisions. Please note that Gate may restrict or prohibit the use of all or a portion of the Services from Restricted Locations. For more information, please read the User Agreement
Like Konten